• PDF

Kearifan Lokal

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:09
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 2192 kali

Hola..hola..lama saya tidak menulis di kolom ini. Gempa di kota tempat saya tinggal, Jogja tercinta, membuat rutinitas menjadi lumayan berubah. Saya merasa belum "on" jika harus menulis lagi. Tetapi sejatinya saya belajar banyak dari gempa tersebut. Saya sedih ketika melihat korban berjatuhan. Tapi saya juga terharu dan belajar bagaimana teman-teman yang terkena musibah cepat bangkit dan bisa bergotong-royong memperbaiki keadaan. Memang belum semua dapat diatasi tapi banyak teman yang sudah terlibat di dalam pemulihan bencana di berbagai tempat--termasuk negara lain--melihat masyarakat sangat cepat pulih dan bisa menerima keadaan sebagai, "Ini memang sudah garis nasib dari Tuhan Mas..."

Seorang teman psikolog bilang, di satu sisi mungkin sikap nrimo dari orang Jawa yang sangat membantu pemulihan emosi dari berbagai kejadian ini. Gejala trauma memang muncul, tapi, menurut teman tadi, kalau segera diupayakan penanganannya pasti akan segera hilang. Gotong-royong dari masyakarat nampak sekali di lapangan. Saya melihat satu truk penuh tukang dari Temanggung dan Magelang secara sukarela membersihkan puing-puing sisa gempa. Makanan mereka bawa sendiri dan semuanya punya semangat sama, "Mas kita itu harus saling menolong, hidup di dunia ini tidak tentu to?..." 

Yang saya heran justru "blow up" dari satu dua media, LSM, serta aparat pemerintah yang melihat bencana ini dengan kepentingan tertentu. Saya sendiri jadi garuk-garuk kepala saja ketika ada orang yang ingin membantu tetapi syaratnya benar-benar bikin pusing. Dalam situasi inilah kearifan lokal bertemu dan kadang berbenturan dengan kepentingan-kepentingan sepihak serta ketidaktulusan.

Tulisan terakhir saya menyinggung sedikit mengenai pendidikan multikulturalisme. Saya berpikir bahwa pendidikan berbasis multikultur itu harus segera digagas. Di lapangan, pengetahuan dan pemahaman mengenai kearifan lokal atau budaya lokal amat berperan dalam berbagai situasi "chaos" serta pemulihan berbagai krisis. 

Saya belum bisa membahas secara panjang lebar di sini. Berdasarkan pengalaman di lapangan, berbagai pendekatan yang sifatnya berbasis kepada kearifan lokal amat membantu ketika hendak menjalankan program. Ada kepala sekolah yang kemudian menolak bantuan tenda untuk sekolahnya hanya karena sang Kepala Sekolah tersinggung oleh si pembawa tenda. Atau ada volunteer sebuah LSM yang dikeroyok oleh warga karena dia dengan serta merta menyalahkan Pak Dukuh yang dianggap tidak becus menyalurkan bantuan logistik. Ada juga LSM yang kalang kabut karena salah seorang staff-nya terlalu banyak janji dan bermulut besar kepada masyarakat. Menurut saya hal ini terjadi karena pemahaman kebiasaan atau budaya yang sangat kurang. Hal seperti ini jelas bagian dari pendidikan multikulturalisme.

Sisi lain, saya juga sebenarnya bingung--dari dulu 'ding' bingungnya-- dengan peran sekolah atau institusi pendidikan dalam keadan gempa ini. Salah satu sekolah yang bukan korban gempa melaporkan kalau sekolahnya rusak karena gempa, padahal saya tahu sekolah itu sudah lama rusak. Seorang kepala sekolah memutuskan anak-anak belajar di ruang terbuka padahal dia punya tenda yang bisa dipakai. Ada Guru yang kemudian mangkir mengajar dengan alasan gempa padahal dia berada di lokasi yang tidak parah terkena gempa. Trus ada juga sekolah yang tidak bisa memberikan penjelasan ke orang tua mengapa gempa terjadi sehingga 90% anaknya tidak masuk sekolah selama dua minggu, padahal sekolah itu amat sangat jauh dari lokasi gempa yang parah. Soalnya teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam Sanggar Cantrik memberikan pembelajaran mengenai gempa kepada anak-anak dan hal itu sangat efektif memberikan penyadaran kepada anak-anak dan orang tua mereka. Memang saya bingung dengan peran sekolah, mungkin karena mereka sangat sibuk mengurusi ujian. Juga mungkin karena saya kurang tanggap dengan berita. Hanya saja saya dapat cerita dari teman di Jerman bahwa beberapa anak-anak SD di sana mengumpulkan uang saku untuk teman-teman mereka di Bantul.

Ya mungkin ini dulu sharing saya..belum "on" banget nih.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."