• PDF

Kearifan Anak-anak

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:10
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1718 kali
Beberapa minggu ini, bersama relawan-relawan mahasiswa dari berbagai jurusan dan kampus di Jogja kita mengadakan kegiatan "Sanggar Ceria" bagi anak-anak korban gempa. Kami melihat anak-anak tidak begitu terperhatikan dan karenanya justru menjadi korban yang paling menderita karena keadaannya saat ini akan berpengaruh bagi masa depan mereka. Jika mereka tetap takut dan bahkan mengalami trauma maka bisa dipastikan pertumbuhan mereka terganggu dan bisa menjadi pribadi yang bermasalah di masyarakat. Kami memang melihat anak-anak yang tiba-tiba menjerit, ketakutan di waktu malam, ngompol, takut bertemu orang lain, dan juga seperti kehilangan arah, tidak tahu harus berbuat apa. 

Metode yang kami pakai sederhana saja. Kami berangkat dari kenyataan bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Mereka belum terbebani banyak hal dan mudah melupakan suasana sedih mereka. Kami ingin mereka kembali ceria, tidak takut, percaya diri, dan bisa menghadapi kenyataan. Maka media yang kami pakai adalah media bermain. Anak-anak diajak bermain, apa saja, untuk mengalihkan perhatian dan kemudian dari situ kita memberikan pembelajaran bagi mereka. Salah satu permainan yang menjadi favorit mereka adalah petak umpet. Kepercayaan diri tanpa sadar terbangun ketika mereka tidak lagi takut bersembunyi di rumah atau di kolong meja sisa-sisa gempa. Keceriaan ketika menemukan teman yang bersembunyi membuat anak-anak begitu gembira seperti menemukan kembali keluarga yang hilang. Mereka bisa melepas ketegangan dan mengakhirinya dengan gembira. Permaianan lain yang disukai tentu saja adalah sepak bola--maklum sedang demam bola. Kegembiraan anak-anak menjadi sukacita tersendiri bagi kami. 

Berbagai kelucuan yang timbul dalam berkegiatan membuat kami merasa segar terus dan tidak lelah dalam melayani anak-anak ini. Tentu saja masalah selalu ada, bahkan silih berganti timbul. Tapi semakin kami sadar bahwa anak-anak mempunyai kearifannya sendiri yang perlu kita perhatikan. Mereka bukan manusia yang belum utuh, mereka adalah manusia yang mempunyai pikiran sendiri dan perlu terus diajak berdialog untuk memantapkan pengetahuannya akan dirinya sendiri dan lingkungannya. 

Justru kejadian paling menyebalkan datang dari para mereka yang menyebut dirinya manusia dewasa dan beradab. Alkisah ada sebuah lembaga yang datang ke salah satu desa yang menjadi dampingan kami. Lembaga itu rupanya mempunyai dana yang lumayan besar. Mengetahui kami ada kegiatan untuk anak-anak, mereka tanpa permisi segera menggabungkan diri dan membuat metode lain yang berlawanan dengan metode kami. Alkisah lain menyebutkan kalau salah satu koordinator relawan di desa itu yang bekerja sama dengan kami adalah mantan "orang" dari lembaga tadi. 

Maka mereka kemudian mengumpulkan anak-anak dan memberi hadiah ke anak-anak. Menurut mereka hadiah-hadiah seperti itu perlu agar anak-anak senang. Efeknya sungguh tidak mengenakkan. Anak-anak tiba-tiba mogok berkegiatan karena mereka sekarang jadi sadar "hadiah". Padahal kami tidak mau mengajari mereka menjadi "pengemis" seperti itu. Setiap kami ke sana maka yang diminta adalah hadiah. Sialnya lagi, orang-orang dari lembaga tadi, yang tidak jelas datangnya kapan, sudah menjanjikan piknik dan banyak hadiah lagi. Yah, karakter dan kearifan yang sedianya hendak kami bangun menjadi rusak semua.

Bagi kami jika anak-anak kemudian berubah menjadi sangat menuntut bukan berarti anak-anak itu adalah manusia yang belum utuh. Tapi kita yang menganggap diri dewasalah yang tidak mengerti cara berpikir mereka dan memaksakan pemikiran kita ke anak-anak tadi. Anak-anak hanya merespons dengan keluguan mereka. Keluguan bagi kami bukan berarti tidak utuh atau setengah manusia, tapi di situlah mereka berpikir. Saya pikir kita perlu menghargai pemikiran anak-anak itu. Jadi kami pun tidak marah dengan perubahan anak-anak tadi, kami berusaha mengajak mereka bedialog lagi dengan berbagai permainan. Tapi memang racun orang dewasa itu sulit untuk dibuang. Sebalnya ada orang yang malah bilang, "Dasar anak-anak, sudah diberi perhatian kok malah jadi bandel begitu." Saya pikir orang ini tidak tahu keadaan yang terjadi dan merasa benar sendiri. Pastinya orang itu bukan dari kelompok kami he..he..
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."