• PDF

Soal Memberi, Karakter, dan Kemiskinan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:10
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1984 kali
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, begitulah ajaran Yesus. Barangsiapa tidak memberikan makan kepada salah seorang di antara mereka yang lapar itu berarti mereka tidak memberikan perhatian kepada Tuhan, ini juga salah satu ajaran Yesus. Jika kamu memberi berilah dengan setulus hati seperti janda miskin yang mempersembahkan seluruh miliknya dalam perumpamaan yang diceritakan Yesus.

Pengajaran ini sering sekali kita dengar. Berulangkali juga kita ajarkan kepada orang lain. Tetapi permasalahannya tetap sama, kita tetap sering kali memberi dengan pamrih yang begitu besar. Sudah sejak kecil kita diajari: kalau mau adil berilah kepada orang-orang sesuai dengan haknya. Bagi saya pemikiran ini mengandung pemikiran kapitalistik yang kuat. Kalau mau memberi berarti lihat dulu dong apa yang dia kerjakan atau apa yang seharusnya menjadi haknya. 

Kadang situasi memang menjadi sulit. Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati, Yesus memberikan suatu pembelajaran yang lain dari yang lain mengenai mengasihi dan melihat sesama kita. Orang Samaria yang dianggap secara moral dan tingkah laku buruk oleh orang Yahudi ternyata justru menjadi penyelamat bagi mereka yang kesusahan. Padahal sebelumnya ada seorang Imam dan orang Lewi yang menjumpai korban tak berdaya itu. 

Ada tafsiran yang mengatakan bahwa orang Lewi dan Iman itu menghindari korban justru karena mereka mentaati peraturan yang ada. Jadi jika mereka menjamah korban tersebut maka mereka tidak bisa beribadah karena mereka dinajiskan lagi. Kena darah dan kotoran. Maka demi suatu kesucian mereka menghindari menolong orang tadi. 

Entah benar atau tidak tafsiran itu, dongeng ini mengingatkan saya betapa sistem sosial, atau peraturan malah justru membuat kita berpikir terlalu jauh ketika akan menolong. Padahal seperti diajarkan Yesus, kelas sosial, status, atapun kejelekan moral seseorang sebaiknya tidak menghalangi kita untuk menolong dia. 

Bayangkan seandainya Tuhan kita menolong dan memberikan kepada kita kasih-Nya sesuai dengan hak kita. Hem..saya yakin kita tidak akan lolos dan tidak berhak menerima semua yang berasal dari Allah. Bayangkan juga bahwa Yesus rela mati di kayu salib tanpa pamrih sedikit pun. Memberikan nyawanya, sesuatu yang sangat berharga tanpa meminta kita memberikan timbal balik. Dia mau menolong kita yang penuh dengan dosa dan ya..tidak kudus sama sekali.

Saya pikir banyak sekali ajaran Yesus yang justru memutarbalikkan banyak fakta dan juga pemikiran kita mengenai sesama kita. Mungkin kita harus selalu mengingat teladan Yesus itu. 

Mungkin begitulah keadilan itu. Menjadi tanpa pamrih. Saya melihat begitu banyak kesulitan ataupun kemiskinan ataupun kekurangan akan teratasi jika kita menjadi tanpa pamrih. 

Sangat sulit, sebagai contoh, memaksa anak dari keluarga miskin absolut untuk berprestasi di sekolahnya secara maksimal. Padahal beberapa orang membantu dengan embel-embel "Saya mau asal dia berubah dan menjadi punya prestasi". Suatu proses yang panjang untuk semua itu dan membutuhkan kesabaran ekstra. Saya baru saja menjumpai seorang yang "sedikit marah-marah" dan merasa mubazir memberi bantuan karena melihat anak yang dia bantu masih saja nakal dan tidak beraturan. Saya syok karena dimarahi dan anak itu juga menjadi lebih sulit hidupnya. 

Mengatasi kemiskinan dan juga ketidaktertiban di negara ini juga memerlukan semangat tanpa pamrih. Saya berpikir betapa kita perlu memberi dengan tanpa menjadi merasa sombong dan lebih dari yang lain. Sering kali karena memberi kita menuntut hal yang lebih banyak, nanti kalau sudah diberi sepatu begini ya, kalau udah diberi tas begini ya, dan seterusnya.

Karakter yang baik dan penuh kepedulian perlu diajarkan sejak dini kepada anak-anak agar jika mereka dewasa menjadi pribadi yang menolong dan mempunyai semangat untuk saling memperbaiki tanpa merasa sombong dan lebih dari yang lain. 

Karakter adalah kebiasaan. Itu yang saya percaya. Jika karakter kita jujur. Di mana pun kita berada kita akan jujur karena kita terbiasa jujur. Karakter adalah pembelajaran yang diberikan secara berulang-ulang dan itulah yang hilang dalam pendidikan kita. Waktu SD kita diajarkan bahwa disiplin adalah suatu hal yang baik tapi praktek disiplin seringkali tidak kita laksanakan dengan baik. Hanya ketika baris mau masuk kelas praktek disiplin dijalankan dengan seksama. Itu pun kadang penuh dengan kekerasan. Saya pernah ditendang hanya gara-gara waktu baris tangan saya belum sempat diacungkan ke depan ketika aba-aba "lencang depan" diucapkan.

Begitulah, saya berpikir tentang orang-orang kaya yang begitu ingin memberi tapi juga merasa mereka harus mempertahankan suatu "kebaikan" dengan meminta suatu imbal balik agar pemberian itu tidak menebar angin saja. Tabur dan tuai memang ada tapi kalau pengharapan kita melebihi kapasitas bukankah itu juga tidak baik? Mungkin kita perlu belajar dari Yesus yang memberi dengan seluruh jiwanya. Jika kita memberi seperti kita memikirkan diri kita sendiri mungkin pamrih akan hilang. 

Saya baru mendapat informasi dan diajak untuk mengatasi kemiskinan dengan berkampanye "Make Poverty History" anda bisa buka situsnya di www.micahchallenge.com
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."