Putri Indonesia

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Seorang ibu tua di Bantul mengusung dagangan berupa daun pisang dan makanan kecil buatannya sendiri. Dengan semangat, pagi-pagi benar dia sudah berangkat ke sebuah pasar di daerah Pundong Bantul. Berbagai pengalaman hidup seakan terpancar di raut wajahnya yang penuh dengan lekuk-lekuk karena dimakan usia. Ibu ini tidak bersekolah. Dia tidak bisa menggantungkan hidupnya dari anak-anaknya yang bekerja sebagai buruh dan sekarang malah menganggur karena pabrik dimana mereka kerja ambruk diterjang gempa.

Ibu tua ini berjualan karena, "Niki sing saged kulo lakokke Mas. Men putu-putu gadhah sangu ngge jajan, lare-lare kulo nggih dha nganggur je Mas" (Ini yang dapat saya lakukan mas. Biar cucu-cucu saya punya uang saku buat membeli jajanan (makanan kecil), anak-anak saya juga menganggur Mas). 

Ada begitu banyak ibu-ibu seperti ibu tadi. Berjuang seumur hidup dan menghidupi keluarganya dengan penuh dedikasi. Jarang sekali ada sentuhan buat mereka apalagi pemberdayaan. Dari segi ekonomi, mana untung memberdayakan perempuan seperti mereka. 

Di tingkat lebih luas lagi, para perempuan berjuang di negeri orang menghidupi keluarganya di rumah. Bertaruh nyawa dan harga diri. Tetapi di rumah suaminya malah selingkuh atau menggunakan uang hasil jerih payahnya dengan tidak bijaksana. 

Di dunia pendidikan nampaknya kesadaran gender belum terakomodasi dengan baik. Saya selalu ingat, kalau pelajaran di SD dulu ibu pasti memasak di dapur dan bapak bekerja. Ibu adalah mereka yang berada di belakang dan melayani keluarga. Jangan kaget juga jika ada Guru yang menghardik anak didiknya "Kamu anak perempuan kok banyak tingkah!" seolah-olah mereka yang perempuan tidak bisa berbuat lebih banyak lagi.

Lalu saya pun teringat Nadine yang sekarang sedang berlaga di dunia Internastional sebagai Miss Universe. Katanya, inilah potret putri Indonesia. Cantik, putih, mulus, glamor, dan smart. 

Tapi saya bertanya juga dalam hati, inikah jati diri putri Indonesia sebenarnya? Bagai porselin dan tak terjamah sama sekali oleh mereka yang ada di kalangan yang mencari makan sehari pun sulitnya minta ampun. Ingatkah Nadine pada sudara-saudaranya yang belum bisa bersekolah? Atau kalau dia lahir bukan sebagai Indo dan tidak punya kesempatan seperti sekarang, bisakah dia menjadi Putri Indonesia? 

Saya bermimpi bahwa Putri Indonesia berasal dari kalangan kelas bawah dan berwajah eksotis khas Indonesia. Bermimpi bahwa mereka yang berjuang dan mampu bertahan hidup dalam kubangan kemiskinan itulah yang nantinya menajdi Putri Indonesia. Saya pikir mereka tidak kalah cantik dari Nadine. 

Tapi lagi-lagi ada teman yang dengan sinis berkata, "Mana bisa menghasilkan uang. Buat biaya dia belajar etika dan tata krama aja dah besar banget nanti. Juga belum tentu mentalnya kuat. Mending mimpiin yang sekarang sudah ada dan jelas cantik. Nadine."
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."