• PDF

Diskusi yang Kacau

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:11
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1874 kali
Saya mengikuti sebuah diskusi yang diadakan teman-teman mahasiswa S2 dari sebuah perguruan tinggi di Jogja. Temanya mengenai membuat program bagi pendidikan di gereja. Dalam diskusi tersebut diadakan semacam workshop, berkelompok membuat contoh program. 

Diskusinya sendiri berjalan lancar. Permasalahan, mungkin bisa dikatakan begitu, baru timbul ketika diadakan presentasi hasil diskusi. Arahan sebelum diadakan diskusi sebenarnya cukup jelas: pertanyaan atau usulan nantinya dimaksudkan untuk memperbaiki semua program yang berhasil dikerjakan dalam workshop ini.

Fakta yang terjadi: seorang Bapak berdasi marah-marah karena dia merasa usulannya adalah yang paling benar. Seorang Ibu hampir menangis karena tidak bisa menjawab cecaran pertanyaan peserta--diakhir diskusi dia bilang "Saya kok jadi tidak tentram tadi, semua sepertinya paling benar sendiri". Moderator hampir tidak berfungsi karena semua berbicara sesuka hati dan merasa benar sendiri. Jika ada usulan yang berlawanan bukannya ditampung tapi malah berusaha dicari kelemahannya. Jadi yang terjadi adalah saling menjatuhkan. Sulitnya, banyak di antara mereka melandaskan pendapatnya itu berdasarkan ayat di alkitab. Mempertahankan diri bahwa merekalah yang paling alkitabiah. 

Dua hari sebelumnya, saya mengumpulkan beberapa korban gempa dan mengajak mereka untuk bergotong-royong saling membangun rumah. Semuanya memiliki pendapat sendiri dan tidak bisa disatukan. Tidak ada rasa saling mengalah atau menghargai pendapat yang lain. Semuanya menjadi seperti ahli yang bisa menganalisa bagaimana sebaiknya membangun sebuah rumah tahan gempa. 

Tidak semua orang seperti itu tapi komentar seorang teman yang kebetulan berasal dari luar negeri mungkin bisa mewakili keadaan yang ada "Di sini sepertinya tidak ada etika dan aturan, kok semuanya ingin menang sendiri? Apa di sekolah kalian tidak diajarkan etika dan karakter?"

Dia bercerita bahwa di negaranya semua orang jika di tempat umum berusaha selalu menaati peraturan dan etika karena hal itu diharapkan menjadi teladan bagi anak-anak dan generasi muda. Dengan begitu tidak akan ada bis kota ngebut atau diskusi yang rusak karena saling berebut mengutarakan pendapat. Mereka berbuat dengan pemikiran ini semua untuk masa depan bersama. Lalu dia pun bercerita bagaimana sungai di kotanya dulu kotor tapi sekarang mereka bisa memasak dari air sungai itu. Semua karena adanya karakter yang baik dan kuat tertanam dalam diri masyarakat. Dengan karakter yang terbangun itu masyarakat memiliki etos kerja yang baik dan juga tujuan dalam melakukan banyak hal.

Saya pun hanya mengangguk-angguk dan tetap bingung karena dalam diskusi ini semua alkitabiah dan diklaim sebagai ajakan dari Tuhan.

Bagaimana?....ehm mungkin kita perlu berkata "Hidup Alkitab"
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."