• PDF

Tahun Ajaran Baru Yang Mencekik

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:11
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1786 kali
Seorang Guru di kota Jogja mendatangi saya. Meminta bantuan beasiswa bagi anaknya. Dia mengeluhkan bahwa anaknya sampai sekarang masih kesulitan sekolah karena belum bisa membayar uang gedung--begitu istilahnya--yang diwajibkan oleh sekolah barunya. Si anak rupanya baru masuk ke SMA. Bapak Guru ini seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta. Gajinya menurut dia tidak cukup sama sekali untuk membiayai tiga anaknya. 

Sekolah sang anak memang sekolah swasta favorit dan membutuhkan biaya besar untuk bersekolah di situ. Saya bertanya mengapa tidak disekolahkan di sekolah yang lebih murah? Bapak itu menjawab, "Anak saya pingin di situ mas, soalnya itu sekolah favorit. Saya juga ingin pendidikan anak saya lebih baik dan tidak menjadi guru honorer seperti saya. Masak anak guru sekolah di sekolah murahan Mas". Tidak tahu mengapa semangat yang saya tangkap dari Guru ini adalah semangat untuk tampil lebih saja bukan pada mengejar mutu pendidikan, karena saya tahu ada sekolah yang lebih murah dan bermutu yang bisa dimasuki anaknya. 

Pola pikir seperti guru ini juga yang seringkali digunakan oleh sekolah-sekolah untuk menarik dana lebih besar lagi dan lebih besar lagi. Pola di mana yang dikedepankan adalah keinginan sekolah untuk menonjolkan diri secara tampilan--seperti keinginan anak yang ingin dianggap top oleh anak-anak lain. Tentu saja kalau semangatnya untuk memperbaiki pendidikan sah-sah saja dilakukan. Tetapi seringkali hanya gengsi yang dimunculkan. Sebagai contoh, beberapa sekolah menarik uang kepada siswa hanya untuk membangun pagar sekolah saja atau menambah ruang yang digunakan hanya setahun sekali, atau membeli peralatan sound system yang kadang malah cuma jadi pajangan saja. 

Saya bingung dengan makin bertambahnya kebutuhan yang sepertinya dibuat-buat dan dikreatifkan sehingga sepertinya menjadi penting bagi sekolah untuk menaikkan uang gedung atau uang sekolah. Mungkin pertanyaannya adalah apa sebenarnya standar minimal sebuah sekolah dan bagaimana batasan bagi mereka untuk berbelanja atau menggunakan keuangan sesuai kebutuhan? Ya, kadang saya berpikir, untuk apa sebuah sekolah di desa membeli peralatan drumband? Padahal anak-anaknya lebih membutuhkan disiplin agar mereka dapat hidup lebih bersih. Ada juga sekolah yang tiba-tiba harus mengadakan empat seragam yang berbeda, padahal ya seragam itu kalau dibelikan alat tulis jelas lebih baik. Atau ada sekolah yang ngotot merenovasi sekolahnya menjadi lebih baik tapi tidak memikirkan fungsi bangunan, jumlah siswanya kecil tapi kelasnya besar-besar. Kata seorang mandor, "Kalau lokalnya kecil, dananya yang keluar ya kecil Mas".

Saya lebih melihat mencekiknya suasana tahun ajaran baru ini karena kesalahan manajemen di sekolah. Saya setuju kalau pendidikan itu mahal. Tapi saya lebih setuju lagi kalau semuanya itu akan menjadi murah jika dipikul bersama. Saya kasihan saja mendengar tiap tahun ada anak tidak bisa masuk sekolah karena: tidak bisa membayar uang gedung dan uang seragam.

Mudah-mudahan nanti saya bisa membangun sekolah murah dan bermutu....
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."