Slalu Baru Semangatnya

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Sabtu (25/08), kami dari Sanggar Cantrik, salah satu sanggar dampingan tempat saya bekerja, seperti biasa bertemu dengan 46 anak-anak yang ceria dan antusias dalam belajar. Mereka selalu menunggu kedatangan kami dan terlihat gembira jika diajak berkegiatan bersama kami. 

Hal ini sangat kontras dengan keadaan Guru-guru yang hampir selalu menghindar ketika kegiatan mau dimulai dan sering mengambil jalan pintas untuk setiap kegiatan yang kami lakukan. Terakhir kali kami mengajak anak-anak belajar membuat pupuk kandang bersama ada Guru yang dengan enteng bilang, "Sudahlah Mas belikan pupuk jadi, wong murah kok, trus kita jelaskan cara membuatnya". Jadi pikiran yang muncul adalah "bagaimana kita buat supaya lebih enak". 

Berbeda dengan anak-anak, mereka dengan antusias membawa kotoran ternak dari rumah mereka masing-masing--ada beberapa yang minta ke tetangga. Kalau mikirkan ini betapa kayanya alam kita dengan alat peraga. Bahkan kami sendiri yang kemudian kewalahan karena beberapa di antara kami merasa jijik dengan kotoran itu sehingga ingin segera menyelesaikan pelajaran membuat pupuk kandang ini--maklum ada yang sudah didoktrin orang tuanya jangan menyentuh hal-hal yang kotor.

Kadang kami berpikir juga, anak-anak itu begitu antusias belajar sementara kami sendiri kadang tidak ikut belajar dan seperti kelelahan menghadapi kreativitas mereka. Beberapa teman bertanya, "Kita mau ngapain lagi nih?" Pertanyaan yang menyiratkan semangat untuk belajar tapi juga kelelahan mengikuti antusiasme anak-anak.

Mengajar dan mendidik jelas hal yang melelahkan. Kita harus berkorban banyak waktu dan tenaga. Banyak di antara kita menyadari hal ini tetapi banyak juga yang menganggap tidak perlu dipikirkan sama sekali. Bagi yang terakhir ini, hidup itu pastilah berjalan seperti yang diungkapkan oleh salah seorang teman guru "Mas tidak usah neko-neko (macam-macam), kita itu hidup biasa saja nanti kan juga ada rejekinya dari yang Kuasa, wong semuanya sudah tersedia di alam kita ini, kita ini kaya lho mas, lha wong di sini kering begini saja bisa makan kok". Guru teman kita ini di satu sisi benar juga, Tuhan pasti akan bekerja bagi kita, tapi dia lupa juga kalau alam itu tidak kekal dan Tuhan tidak ingin kita hanya bermalasan tanpa usaha. Dia juga lupa bahwa tantangan di masa depan akan lebih serius lagi.

Tentu saja kami tidak merasa lebih baik dari Guru-guru ataupun murid-murid itu. Kami belajar juga dari mereka dan bahkan seringkali tersenyum kecut ketika menyadari bahwa pengalaman teman-teman Guru atau kearifan lokal anak-anak menyadarkan kami dari kebodohan kami yang kadang terlalu percaya pada teori dari buku.

Pelajaran yang selalu kami terima dari dinamika ini adalah bahwa anak-anak selalu memiliki antusiasme baru dalam belajar dan selalu bergairah ketika diberikan pelajaran-pelajaran baru bagi mereka. Baru enam bulan kami di desa itu dan kami melihat anak-anak sudah berani bertanya dan maju ke depan kelas mempresentasikan hasil belajar mereka tanpa kesulitan disuruh-suruh. Seringkali justru kita yang merasa lebih tua dan merasa berpengalaman yang justru membuat aturan baku tersendiri sehingga semangat dan antusiasme kita berakhir pada pandangan sempit "Setahu saya begini, ya harus begini, tidak benar itu, bahaya nanti!" Atau slogan-slogan lain dan nasehat yang kadang muncul dari mulut kita karena merasa lebih baik dan benar yang kelihatannya bijaksana tapi memperlihatkan kita adalah katak dalam tempurung.

Dan semangat yang selalu baru itu juga membutuhkan kerja keras, bukan hanya dipikirkan. "Skripsi itu jangan dipikir saja, tulis. Jadi belajar itu ya jangan dipikir saja, kerjakan dan praktikkan!"
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."