• PDF

Puisi Gak Nyambung

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:12
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 5829 kali
Sebuah iklan menggambarkan betapa senangnya warga desa akan datangnya barang bernama internet. Semua seolah terselesaikan ketika internet datang dan informasi tersedia dengan segera. Tapi ada banyak sekolah yang membiarkan perangkat komputernya berdebu karena mereka  takut memakai. Nanti rusak dan tidak bisa beli lagi, jadi dipakainya sejarang mungkin. Kenapa ya tidak berpikir kalau internet butuh proses pengenalan dan juga ketrampilan memakai? Kenapa juga tidak ada pemikiran untuk menggunakan komputer itu untuk menghasilkan uang? Seolah-olah semua selesai begitu si mesin datang. Akhirnya ya sang mesin rusak karena tidak dipakai. Mungkin hanya di Indonesia menanam besi dan industri hasilnya adalah beras ketan. Maksudnya pesawat diganti beras ketan.

Gak nyambung

Hutan kita terbakar dan kita tidak begitu peduli. Buktinya tiap tahun ada saja yang terbakar dan pelajaran di sekolah masih mencantumkan kalau negara kita adalah negara dengan hutan yang sangat luas. Tidak tahukah mereka jika ribuan hektar hutan kita hilang setiap tahunnya? Mungkin yang bilang hutan kita masih lebat belum pernah merasakan betapa satu dasawarsa sebelum ini di Blora, Jawa Tengah, kita masih bisa menjumpai hutan perawan yang lumayan luas. Tapi mari sekarang kita ke sana, kering! Paman saya di Blora bilang, "Sekarang sudah sulit cari rusa, dulu tiap minggu masih bisa dapat dua".

Kita pun kemudian sibuk berkomentar tentang pendidikan lingkungan. Anak-anak dididik menghargai hutan tapi tidak pernah pergi ke hutan. Anak-anak dididik bahwa kupu dan katak mengalami perubahan sebelum mereka memiliki bentuk katak atau kupu yang sempurna. Tapi membedakan katak dan kadal saja anak-anak tidak bisa. Anak-anak dididik pentingnya hutan tapi sang guru sendiri jadi penadah kayu hasil jarahan dari hutan.

Gak nyambung

Ujian Nasional beberapa waktu yang lalu masih menyisakan polemik di sana sini. Ada yang setuju dan ada yang menghujat. Semuanya memiliki argumennya sendiri. Satu bersikukuh bahwa yang namanya test tetap diperlukan dan satu lagi berteguh diri bahwa test yang ada sekarang ini tidak adil dan tidak bisa menggambarkan keadaaan siswa kita sebenarnya. Lalu bagaimana sebenarnya keadaan siswa kita yang sebenarnya? Jawabannya macam-macam juga. Ada yang bilang siswa kita pandai-pandai karena berhasil menjuarai olimpiade ilmu pengetahuan di negeri manca tapi ada yang bilang juga siswa kita bodoh-bodoh dan dianggap tak tahu banyak hal. Masa letak sungai Serayu saja tidak tahu, masak lima kali delapan saja tidak tahu, mereka hanya tahu soal trend dan mode. Lalu solusinya apa? Dan berdebatlah kita kembali berputar ke sana kemari lagi. Saya sendiri dalam kolom ini ikut nimbrung memberi komentar yang barangkali malah memperkeruh suasana. Semuanya ikut berkomentar dan hanya berkomentar saja. Tapi semuanya menguap ditimpa lumpur panas dari Porong, Sidoarjo.

Gak nyambung

Lucu tidak sih kalau ada berita seperti ini: Perkemahan Pramuka Nasional dikelilingi oleh gerai-gerai makanan siap saji dan minuman ringan siap saji? Akhirnya mereka tidak masak sendiri dan jadi konsumtif. Bahkan ada peserta dari Irian berujar "Enak ya di sini, semua tinggal ambil. Saya juga baru rasa apa itu coca-cola di sini" Lucu ya? Pramuka yang katanya cinta alam dan mandiri eh diberitakan konsumtif dan menimbun sampah di perkemahan tersebut. Di mana proses pendidikan yang harusnya ditanamkan di sini?

Gak nyambung

Seorang sesepuh desa yang terpandang dan kaya berceloteh "Apa nanti ganti rugi sampeyan kalau mau nebang pohon jengkol saya itu hah? Tak beri tahu ya, pohon jengkol saya itu tiap tahun bisa hasilin satu juta sendiri. Lha sampeyan mau motong begitu saja. Kalau ngganggu sekolah ya sekolahnya yang pindah sana. Wong saya tidak sekolah saja punya istri empat dan mobil tiga kok, enak saja sampeyan nebang pohon jengkol saya!" Begitu amarahnya ketika komite sebuah sekolah meminta ijin menebang pohon jengkol yang memang kondisinya rawan dan sekali waktu bisa roboh menimpa bangunan sekolah. Kalau orang tua saja berpedoman sekolah tidak begitu penting bagaimana mau nyambung dengan semboyan wajib belajar?

Gak nyambung

Seorang mantan kepala sekolah bilang, "Pendidikan kita itu saya rumuskan begini Mas, meja+kursi+penggaris=papan tulis, gak nyambung Mas. Apa-apa kalau di pendidikan kita itu gak nyambung rumuse, lha ujian nasional itu, lha wong berbagai mata pelajaran kok trus dirangkum hasile trus dijadikan ukuran, ya gak nyambung Mas! Apalagi nek satu bernilai buruk trus bilang ora lulus ya ora adil no. Ya itu Mas, wong kursi tambah meja kok dadi papan tulis, ya gak iso!" Yap dia tinggal lama di Jawa Timur. Rumusnya bagi dia sederhana "Semua gak nyambung Mas!"

Gak nyambung

Mengapa tidak nyambung? Nah ini juga jawaban mantan kepala sekolah tadi "Ibarat membangun rumah, kita itu tidak tahu mau bikin rumah joglo atau rumah gadang. Trus awake dewe duwe kayu, ribut ae kayunya mau diapakan, duwe tukang ribut ae, siji mbangun pondasi ke arah utara siji nang Barat. Dadi bingung kabeh. Gak nyambung Mas. Semua kan sebenarnya bisa ditata bersama to Mas, tapi ya itu wong arep mbangun rumah yang bagaimana saja tidak tahu kok."

Gak nyambung

Jika kita mau menyambungkan kursi dan meja agar menjadi papan tulis, menuruti logika bapak mantan kepala sekolah tadi, maka sudah seharusnya kita mengurainya satu demi satu dengan bijaksana agar bisa disusun dan diolah menjadi papan dan akhirnya disusun menjadi papan tulis. Pertanyaannya kemudian adalah, maukah kita menyambungkan semua itu secara lebih bijaksana? Butuh pengorbanan dan kerja keras pastinya. Kadang juga tangan yang terluka. Mari kita susun titik menjadi garis, dan kita sempurnakan garis-garis itu dengan huruf yang merangkai menjadi kata dan puisi yang berarti dan bermakna abadi.

Nyambung yuk..nyambung...!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous  - :idea: :woohoo:   |114.79.29.xxx |13-10-2012 22:08:53
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."