• PDF

Meringkas Itu Apa Ya Mah?

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:13
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 4020 kali
Ini pertanyaan seorang anak kelas tiga kepada ibunya di Jogja. Si anak baru saja diberi PR untuk meringkas tiga halaman cerita rakyat yang dibagikan oleh guru. Pertanyaan sederhana tapi mengandung berbagai permasalahan di dalamnya. Mungkin kita tidak begitu tersentuh dengan pertanyaan itu, menganggap hal itu adalah hal biasa dan bahkan mungkin bisa saja kita menjawab "Meringkas ya meringkas, gitu aja tidak bisa!"

Permasalahannya adalah: si anak tidak tahu apa itu meringkas sebuah bacaan. Kemudian Guru juga tidak menjelaskan kepada siswa apa itu meringkas. Mungkin sang guru menganggap siswa sudah tahu karena dia merasa meringkas adalah pekerjaan yang selalu ditugaskan kepada murid. Jadi dalam pikirannya siapapun tahu apa itu meringkas.

Tapi tidak sampai di sini saja sebenarnya. Lebih dalam lagi hal ini bagi saya memperlihatkan suatu kebiasaan yang ada dalam pendidikan kita. Mengajar anak-anak dengan pandangan seolah-olah anak-anak itu tahu segalanya dan tinggal perintah saja. Memang anak-anak bukanlah orang bodoh, tapi jelas kita perlu memberikan informasi kepada mereka dengan jelas supaya mereka bisa mengeluarkan kepandaian mereka. Informasi inilah yang seringkali tidak berjalan dengan baik.

Berbagai permasalahan lain menyembul; apakah si Guru kemampuan bahasanya jelek? Atau dia memang tidak sadar proses sehingga inginnya langsung memberitahukan dan semuanya beres. Tidak sadar kalau informasi juga membutuhkan proses.

Ibu si anak yang kebetulan seorang doktor memberikan dugaan kalau guru-gurulah yang sebenarnya kemampuan bahasanya jelek. Dia membandingkan dengan teman-teman dosen di mana dia bekerja "Wij, dosen-dosen itu kalau mengajar juga bahasanya tidak baik kok, banyak bunga-bunganya dan tidak jelas." Menurut dia kita bangsa Indonesia belum terbiasa berolah pikir dan merumuskan segala sesuatu dengan bahasa yang sistematis dan jelas. "Masih budaya lisan Wij, lom terbiasa nulis dan berpikir".

Bagi dia pertanyaan anaknya itu juga mencerminkan sistem pendidikan kita yang tidak sadar proses sama sekali. Semua inginnya serba cepat dan langsung pintar secara otomatis. Hal ini menurut dia salah satunya berkaitan juga dengan budaya lisan yang masih kita anut. Bagi dia, begitu masyarakat sudah terbiasa dengan tulisan, mereka pasti sudah pula memetakan dan mensistemasi informasi yang akan diberikan dalam suatu proses.

Contoh yang dia ambil adalah kasus di mana dia pernah memberikan tugas kepada guru-guru untuk menulis bagaimana menanak nasi. Hasilnya, "Jelek semua Wij, pada tidak bisa, kalau diminta cerita lancar, tapi begitu diminta nulis, bahasane kacau. Sama muridnya saja kalah, ini kan pertanda kalau guru-guru kita itu kurang mendapat informasi Wij, kurang bacalah."

Lalu saya teringat tulisan Mohamad Sobari di Kompas tanggal 17 September 2006 tentang buku dan budaya lisan, begini tulisannya:

Peradaban modern, tampaknya berkembang, dan maju, karena buku. Bangsa Arab, pasca turunnya ayat pertama, "Iqra": bacalah, maju luar biasa, dan membikin gebrakan peradaban sangat modern, sesudah mereka memasuki dunia buku, dan meninggalkan tradisi lisan.

Para pujangga besar Islam menulis buku-buku babon, peletak dasar ilmu-ilmu, sesudah belajar, dan mengembangkan lebih lanjut, filsafat Yunani.

Untuk zamannya, dan untuk kepentingan dirinya sendiri, tradisi lisan sesuatu yang luar biasa. Tapi memasuki peradaban modern, tradisi itu tampak melankolik, dan kesepian, karena tak mampu menjawab kebutuhan zaman, yang ditandai membaca, menulis, dan mengembangkan dunia ide secara tertulis. Tradisi lisan lalu dianggap kurang relevan.

Maka komunikasi tertulis pun menjadi cara "terkini" untuk menandai bahwa kita bagian dari modernitas, dan kemajuan, dan bukan lagi milik masa lalu, yang sengaja ditinggalkan di belakang sejarah, yang tak punya jawaban atas pertanyaan masa depan.

Jadi untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik, rupanya kita perlu sadar tulisan dan mulai berproses untuk belajar menghargai generasi muda kita. Anak-anak membutuhkan proses belajar dan Guru harus berproses untuk belajar terus juga.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
M.fatoni  - kocak     |182.2.10.xxx |04-09-2010 02:17:20
kenapa setiap guru itu memberi tugas sebelum di beri pengertiannya ?
saya
bingung tolol beri jawaban..
shafira azuraa  - bertanya   |114.79.48.xxx |06-08-2012 19:01:00
shafira azuraa   |114.79.48.xxx |06-08-2012 19:02:19
aku ingin bertanya apa yg dimaksud dengam meringkas
tolong jawab dgn jelas
yaaaa
(makasih)
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."