• PDF

Budaya Dalam Budaya

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:13
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 2011 kali
Setiap orang hidup dalam suatu kebudayaan yang sangat kompleks. Dia hidup dalam begitu banyak ruang dan sistem yang melingkupi kehidupannya. Kita sering berpikir bahwa kebudayaan hanyalah berupa karya seni atau adat-istiadat suatu suku. Padahal banyak ahli telah berusaha merumuskan apa itu kebudayaan dengan pengertian yang lebih mendalam. Salah satu yang cukup terkenal adalah definisi kebudayaan sebagai pengetahuan yang diperoleh dengan belajar untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial.

Dengan definisi seperti di atas, maka kebudayaan sangat dipengaruhi komunitas di mana seseorang hidup karena cara dia menginterpretasi sangat tergantung komunitasnya. Lewat definisi itu juga pemahaman budaya bukan hanya berkisar pada adat atau karya seni, tapi setiap pengetahuan yang kita peroleh adalah budaya itu sendiri. Setiap pengetahuan memilki sistem tersendiri, dan itulah budaya.

Kita telah hidup dalam mitos bahwa kita hidup dalam satu kebudayaan saja, yaitu budaya Indonesia atau budaya Jawa, atau budaya Papua. Padahal di ruang kerja kita yang berjumlah empat orang, bisa jadi kita menjumpai empat kebudayaan yang sedang berinteraksi. Satu orang dibesarkan di lingkungan yang sangat religius, satu lagi dibesarkan preman, satu dibesarkan orang kaya, satu lagi dibesarkan keluarga pegawai negeri yang pas-pasan saja. Masing-masing membawa dunia pemikiran sendiri dan itulah budaya. Jadi begitu banyak budaya yang melingkupi kita.

Kesadaran ini belum dipunyai oleh semua orang. Pendidikan dasar kita dalam pandangan saya belum menyadari keberbedaan tersebut. Anak selalu dipandang sama dan tidak diajak untuk melihat keberbedaan, semua diseragamkan. Semua disatukan dengan seragam yang sama. Seolah semua terselesaikan dengan penyeragaman itu. Tapi kita sadar selama orde baru kita dibodohkan oleh hal itu.

Penyeragaman membuat kita lupa akar dan tidak tahu untuk survive dalam budaya asli kita. Anak Papua yang harusnya kenal hutannya menjadi bengong tak tahu apa-apa karena mereka diseragamkan untuk makan nasi dan berpikir bahwa hidup itu ke kota untuk menjadi pegawai kantoran. Penyeragaman-penyeragaman itu kadang tidak terasa sama sekali dan sepertinya terlihat sangat bermanfaat. Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa) yang sangat terkenal beberapa tahun lalu sepertinya kelompok yang sangat bagus untuk belajar--di satu sisi memang begitu. Tapi dari sisi lain program ini menghilangkan salah satu pelajaran penting yaitu menulis. Kelompencapir membuat budaya lisan makin tertanam dan menyeragamkan pemikiran bahwa komunikasi terbaik adalah lisan. Bukankah pada pokoknya kelompok itu hanya mendengar dan memirsa? Pasif semua. Suatu kondisi yang sangat mudah untuk proses penyeragaman.

Kita lupa berbagai proses budaya dan lupa untuk belajar bahwa dalam hidup ini ada berjuta keberagaman yang perlu kita hadapi setiap hari. Kita lupa bahwa kita akan bertemu dengan berjuta kebudayaan lain di era global dan kita berpikir seragam terus. Seorang teman memberi contoh pola komunikasi kita dengan kentongan. Ini alat komunikasi yang banyak ada di pulau Jawa. Kita kadang berkomunikasi seperti kentongan itu. Dibunyikan dan berharap semua yang mendengar tahu apa arti bunyi tersebut. Orang tidak berpikir bahwa tidak semua orang mengetahui kode kentongan itu. Kentongan tentu saja bagus, dia komunikatif, tapi kalau kita membunyikannya di Kalimantan, belum tentu orang di sana mengerti dengan benar dan baik--bahkan bisa jadi malah bingung. 

Pendidikan kita sering berlaku seperti itu. Seragam dan tidak memikirkan keberagaman. Semua anak dianggap sama dan bahkan kadang dianggap bodoh tidak tahu apa-apa. Guru yang mengajar juga tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengubah seragamnya alur komunikasi di dalam pendidikan kita yang seringkali justru masih diwarnai pola komunikasi militeristik. Yang terjadi: pokoknya kalau dari atas bilang "a" semua ya harus "a".

Maka tidak mengherankan jika di kantor saya "ditegur" ketika mengajukan permintaan untuk membeli buku untuk studi saya. Alasannya "Pinjam saja, dari yang dulu!" karena dalam pemikiran kita, yang namanya belajar itu seragam. Dari dulu sampai sekarang sama saja. Bukunya juga sama saja. Dari SD sampai S2, semuanya sama tinggal pinjam dari yang dulu. Toh semuanya sama dan tidak berubah. Memang memahami budaya yang sudah terlanjur tertanam itu membutuhkan kearifan tersendiri. Saya merasa jengkel tapi saya berusaha menerima budaya yang dipakai teman saya itu.

Saya merasa pembelajaran yang memberikan wawasan multikultur perlu lebih kita gagas dengan lebih mendalam. Masalahnya bisa dilukiskan demikian; ketika kakak atau paman bekerja di Jakarta, dia pulang membawa budaya baru dan bertemu juga dengan budaya baru, jika kita tidak siap dengan berbagai macam orang itu, niscaya yang muncul stereotip keliru dan saling menghakimi yang bisa jadi berujung pada kerusuhan atau konflik. Sederhana saja contohnya, seorang Nenek di Gunung Kidul marah besar karena tidak bisa menerima pacar anaknya yang dari Jakarta tertawanya sangat lepas dan kebiasaannya tiduran sambil membaca di sofa sangat mengganggu eksistensinya. "Perempuan kok malas dan tidak punya sopan santun". Bisa ditebak, pacar si anak mendapat nilai sangat buruk di mata cucu-cucu dan keluarga nenek itu.

Seorang dosen yang pernah belajar di negara tetangga menceritakan sebuah kisah menarik "Wij, di sana itu kan semua ras ada, datang dan pergi dan berbaur gitu, nah di sekolah anakku itu permainannya ya dikondisikan supaya anak-anak terbiasa dengan keberagamann itu, boneka mainannya ya ada yang kulit putih, sipit, atau kulit hitam. Semuanya boleh main dan harus mengerti hal itu, laki perempuan ora masalah main boneka. Trus yang perempuan ya diberi permainan tukang-tukangan juga."

Kita memulai dari hal kecil di sekitar kita karena perbedaan ada di depan mata kita.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
permadi  - baik besar     |114.79.63.xxx |24-03-2011 02:39:51
: hei skrg har bahagia .aq sng bangetttttttt
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."