Perbedaan Di Depan Mata

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Bertahun-tahun, sekolah kita terbuai dengan penyeragaman. Sepatu harus seragam, pakaian harus sama, kaos kaki harus sama, bahkan kalau bisa buku, pensil, dan pikiran harus sama.

Sejak kecil, di sekolah, dibangun budaya bahwa pendapat yang lain adalah salah dan dianggap aneh. Ketika ada pelajaran matematika, 2+2 adalah 4, jika ada yang berkata 2+2 adalah 6-2, langsung saja dicoret sebagai salah. Pokoknya harus seragam. Membuat pigura untuk gambar pahlawan juga harus seragam, biar rapi dan terlihat tertata.


Kelihatannya semua menjadi baik dan rapi. Tapi ternyata kita mengingkari bahwa kita berbeda dari lahir dan perlu diwadahi keberbedaannya itu. Penyeragaman hanyalah membuat kita kehilangan banyak pengetahuan dan kreativitas. Penyeragaman telah membunuh jiwa-jiwa kreatif yang membutuhkan penyaluran.

Jiwa yang seragam membuat kita tidak terbuka dengan perubahan dan menjadi katak dalam tempurung. Tidak bisa berdialog dan melihat mereka yang berbeda adalah "lain" dan bahkan "musuh".

Padahal perbedaan ada di depan mata. Dengan akselerasi globalisasi yang tak terbendung, berbagai macam pengetahuan, kebiasaan, dan kebudayaan menghinggapi kita tiap hari. Jika kita berpikir seragam sudah pasti semua itu tak akan berguna banyak. Hanya berlaku sebagai informasi yang perlu disaring, karena kita merasa budaya kita yang paling baik. Nah inilah salah satu akibat yang lain, merasa diri benar sendiri karena dari dulu hanya dijejali dengan satu paradigma dan satu kebenaran pasti yang seragam.

Pemahaman akan keberbedaan itu penting karena kita hidup selalu dalam proses menjadi. Jawa yang sekarang tidaklah mutlak. Dia selalu berdialog dengan jaman dan selalu harus mengambil sikap terhadap perubahan. Begitu juga dengan pribadi kita sendiri yang terus bersinggungan dengan begitu banyak peradaban yang melingkupi kita.

Contoh kecil: kita makan dengan sumpit, ini saja bagi sebagian orang adalah budaya baru. Jika kita tidak terbuka, kadang malah stereotip yang muncul ketika kita makan dengan sumpit. "Gak perlu makan dengan sumpit, susah dan itu bukan cara kita makan, itu kan dari sini..dan..itu tidak cocok..dan seterusnya...." 

Bayangkan ada berapa banyak kebudayaan dan kekayaan negara kita hilang jika kita berpikir seragam dan diseragamkan secara fisik. Dalam hal pakaian saja, kita bisa lupa kalau kita mempunyai pakaian daerah. Kita bisa ditertawakan bangsa lain karena tidak tahu kekayaan keberagaman bangsa sendiri hanya disebabkan oleh penyeragaman bahwa pakaian resmi itu hanya jas.

Tentu saja saya tidak akan memaksakan pemikiran saya ini. Boleh saja kita mempunyai suatu anggapan tersendiri tentang penyeragaman ini. Kalau anda setuju penyeragaman ya silahkan saja. Toh itu bagian dari kekayaan kita untuk bisa berbagi.

Selamat berbeda...
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."