• PDF

Semua Menahan Diri

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:14
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1532 kali
Blum merumuskan multikulturalisme sebagai ‘sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan sebuah penghormatan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain’ dan ini juga mencakup upaya ‘mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri’, (dalam Ahimsa Putra, Heidi, “Etika Terapan: Sebuah Pendekatan Multikultural”, Jurnal Antropologi 68, 2002).

Rumusan di atas ternyata lebih mudah dibaca daripada dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian kita akan budaya itu sendiri beraneka ragam dan tidak sama dalam diri setiap orang. Kita selalu bicara tentang budaya tapi saya yakin apa arti budaya dalam kepala kita berbeda-beda dan jika didiskusikan bisa saja terjadi pertikaian karena masing-masing tidak mau terbuka terhadap pendapat orang lain.

Ini dia catatan saya di sebuah kelas S2 Perguruan Tinggi Theologia di Jogjakarta. Sebuah kelas yang sedang membahas kuliah Metode Penelitian:

@@

Sore itu seorang yang bernenek moyang Batak, lahir di Jakarta, dan besar di Jakarta, memberikan presentasi tentang kenakalan remaja. Dia menjelaskan rumusan masalah mengenai pengaruh kehidupan sex bebas terhadap kenakalan remaja. Kemudian dia memberikan suatu hipotesa bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap munculnya sex bebas di dalam kehidupan remaja.

Mungkin karena masih muda—begitu kesan teman-teman—cara membawakan presentasinya itu penuh dengan guyon dan sedikit arogan. Dia merasa bahwa hipotesanya itu sudah matang dan tidak ada kesalahannya sama sekali. Muncullah kritik, bahwa rumusan permasalahan dan hipotesanya tidak nyambung sama sekali. Pertama karena rumusan masalah adalah mengenai pengaruh sex bebas tapi hipotesanya mengenai pengaruh lingkungan terhadap munculnya kehidupan sex bebas. Kedua dimunculkan pemikiran agar diperhatikan adanya budaya remaja untuk lebih mendukung upaya penelitan sang presenter tadi.

Jawaban dari teman yang di muka sungguh mengejutkan. Dia menolak semua usulan tadi. Bagi dia “Lho semua itu kan rencana, mau saya pakai budaya kek, mau pakai lingkungan kek, mau seluruh dunia, mau Jogja saja wilayahnya itu kan terserah saya. Pemikiran itu kan pemikiran saudara, bagi saya hipotesa dan permasalahan itu sudah sangat jelas. Tidak perlu diuraikan lagi. Nanti dalam tulisan baru saya uraikan.

Semua tertawa karena teman tadi membawakan arogansinya itu dengan penuh kekocakan dan wajah penuh kemenangan. Sementara sang penanya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi arogansinya itu. Di depan kelas dia kalah dalam perdebatan. Bagi dia yang Jawa, diserang di muka umum ketika dia membutuhkan dialog membuat dirinya mundur, karena pembalasan hanya akan membuat suasana jadi lebih runyam.

Kali ini datang masukan dari orang lain yang berasal dari Papua, masukannya bagus sekali, kalau ingin mengadakan penelitian, lebih baik kita bersikap terbuka dan memahami berbagai variasi dalam lingkungan yang hendak diteliti. Lagi-lagi jawabannya dipenuhi nada arogansi, “Saya sudah baca semua buku remaja, bisa lihat di rumah dan pasti saya benar, saya kira buku itu bisa diterapkan di seluruh dunia. Ini universal dan saya juga dibegitukan (dikritik) ketika mau nulis skripsi dulu, harus terbuka dan sebagainya, jadi diterima atau tidaknya masukan itu terserah saya saja nanti. Buktinya saya dapat A dulu itu.”

Teman penanya tadi hanya bisa tersenyum juga dan bilang “Ya sudahlah”. Kelas tertawa dan di muka teman kita ini merasa menang karena dia merasa argumennya tidak ada yang bisa membantah.

Suasana kelas memang tertawa-tawa, tapi masing-masing terlihat menahan kesal agar tidak terjadi pertentangan yang lebih runcing. Teman saya yang duduk di sebelah saya—dia dari Kalimantan—berbisik, “Bagaimana ini, kok jadi seperti saling menyerang, padahal kan kita mau saling memberi masukan”. Beberapa menganggap suasana ini seperti sebuah lelucon saja. Tapi ada yang sempat berkomentar juga “Dasar Batak, gak mau kalah.”

Sang dosen yang perempuan dan berasal dari Sunda nampaknya malas membahas perbedaan ini dan ketika diskusi yang jadinya cuman debat mempertahankan pepesan kosong itu sudah selesai dia hanya bilang “Ya masukan tadi diperhatikan semua ya”. Dan berlanjutlah kuliah dengan tema baru.

@@

Saya sendiri ikut mengkritik teman di muka tadi tapi saya tertarik dengan dinamika di kelas ini dan menganggap inilah sebagian kecil cermin keadaan sosial kita. Bagi saya teman tadi tidak mengerti kalau ada budaya bernama budaya akademik yang mempunyai etika akademik juga. Dimana masukan dan kritik adalah sarana untuk memperkaya bahan tulisannya nanti. Kemudian arogansinya bagi saya mencerminkan sikap banyak orang di negeri ini, merasa paling benar dan tidak memperhatikan budaya orang lain. Saya tidak melihat Batak atau bukan, karena teman-teman Jawa saya sering juga bersikap seperti itu. Kemudian stereotip negatif yang ada selama ini tentang suatu suku atau komunitas, kadang semakin dikuatkan oleh kejadian-kejadian seperti di atas, padahal itu hanya kasus kecil yang mungkin tidak mewakili seluruh komunitas.

Suasana kelas yang penuh tawa tapi juga sembari menahan emosi, bagi saya memperlihatkan realita kita sehari-hari yang lebih suka menutup-nutupi adanya perbedaan pendapat ataupun kebiasaan ataupun kebudayaan. Lebih baik semua ditahan dan ditutupi saja, bukan dibicarakan untuk dipahami bersama. Perbedaan dihindari karena bisa menimbulkan konflik. Bukankah suasana kelas yang jadi lucu tadi membuat teman kita tidak menyadari arogansinya dan kita juga tidak belajar satu dengan yang lain? Semuanya diam dan hanya duga-menduga jadinya.

Saya menyadari kesulitannya, mungkin memang suasana diam itulah jawaban terbaik, tapi saya berpikir perlunya kita memahami berbagai perbedaan agar kita bisa hidup bersama dengan lebih baik dan saling mendukung satu dengan yang lain. Bagi saya diam dengan memahami adalah persoalan yang berbeda. Diam bukan berarti paham dan keributan bukan berarti selalu merupakan pertikaian.

@@

Tapi di satu sisi, seorang teman berkata “Kelas kita dewasa lho, bisa mengerti kalau tadi itu hanya guyon dan tidak membawanya ke dalam hati. Semua bisa saling menahan diri”.

Benarkah begitu? Perbedaan memang ada di depan mata.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."