• PDF

Awas Ana Wong Bule!

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:15
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1593 kali

Ketika kecil dan masih belum bisa menganalisis apapun, saya pernah ditakut-takuti dengan pernyataan di atas. Ketika itu saya menangis ingin meminta mainan dan keluarlah ancaman itu dari Tante. Intinya orang bule itu adalah mantan penjajah kita dan mereka akan membawa kita jika kita bersalah sama ketika mereka membawa para mata-mata dalam film-film perang kemerdekaan.

Stereotip orang bule ini seolah tertanam kuat dalam masyarakat kita dan bisa dilihat dari acara lawakan di tv yang seringkali memposisikan bule sebagai negatif. Bahkan budaya mereka dalam pelajaran-pelajaran moral di sekolah perlu disaring agar sesuai dengan budaya kita. Atau disaring karena budaya mereka bersifat negatif.

Di dalam masyarakat kita sendiri stereotip seperti itu muncul di mana-mana. Bukan saja hanya untuk orang Bule tetapi juga kepada suku lain atau tetangga kita sendiri. Gejala rasisme seperti ini makin kuat gaungnya dengan berbagai kebijakan politik yang menyarankan adanya budaya adiluhung yang merupakan gabungan unsur-unsur budaya di Indonesia. Slogan ini jelas menampilkan berbagai unsur kebudayaan sebagai jelek dan sebagian lagi adalah baik. Slogan ini sudah bersifat menghakimi dan mengajak kita hanya berpikir secara dualisme baik buruk saja. Pemikiran ini menjadi kurang tepat mengingat yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain dan nilai yang kita pegang belum tentu benar bagi orang lain. Mungkin benar ada yang universal dalam kehidupan ini, tapi penilaian yang universal itu tidak serta merta di "gebyah uyah" dalam pelaksanaannya.

Bagi orang Jawa, berkata "sudah makan" padahal dirinya "belum makan", ketika ditawari makan adalah sopan dan sangat adiluhung. Orang itu dianggap bisa menahan nafsu. Dari satu sisi ada nilai universal yang dilanggar, yaitu kejujuran. Tapi bagi orang Jawa, itu bukan tidak jujur, tapi kesopanan.

Kembali ke stereotip tadi, sekolah kita, saya pikir dengan berbagai slogannya seperti di atas tadi juga mengajarkan rasisme tanpa sengaja. Saya katakan tanpa sengaja karena mereka menganggap sedang mengajarkan budaya yang adiluhung. Masalahnya jelas, budaya adiluhung itu dalam pelajaran sekolah kita sangat jawa sentris. Ada jawanisasi di sana dan bukankah itu menganggap yang jawa adalah yang paling baik?

Karena itu mari kita berpikir untuk terbuka terhadap berbagai perbedaan untuk bisa bernegosiasi dan berdialog serta hidup dengan orang lain dengan lebih baik.

Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih baik. Menara Babel dalam alkitab dibangun untuk melahirkan sesuatu yang seragam dan adiluhung, tapi dihancurkan oleh Tuhan, adakah pelajaran yang kita petik dari sana?

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."