Saling Menilai Dengan Tidak Tepat

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Waktu kecil saya mempunyai beberapa teman dari etnis Cina. Kami bersahabat, bersepeda berkeliling kota bersama, main di sawah bersama, atau menggambar bersama. Seingat saya yang paling ribut mengenai persahabatan kami ini justru para orang tua. Mereka menasehati agar kami berhati-hati terhadap orang Cina. Teman-teman saya yang Jawa, sama seperti saya, tidak begitu mempermasalahkan siapa yang menjadi teman kita. Pokoknya siapapun kalau bisa diajak mancing bareng, membakar ikan bareng, atau main bola bareng, mereka teman.

Pertemanan kami baru terasa hambar ketika menginjak tingkat SMP. Entah mengapa teman-teman Cina tadi juga dilarang oleh orang tua mereka untuk sering-sering bergaul dengan kami, "anak-anak kampung". Pengakuan itu muncul dari mulut teman kami sendiri, "aku ndak boleh main dengan kalian lagi, harus belajar." Sejak itu praktis hubungan kami menjadi renggang.

Di sekolah saya juga mulai mengenal kebencian terhadap etnis lain. Tidak hanya Cina. Ada anak dari Sunda yang dibenci oleh beberapa teman dan kemudian kebencian itu muncul menjadi olok-olok tersendiri bagi semua orang Sunda. Masalahnya, Guru-guru ternyata juga ikut melestarikan kebencian-kebencian tersebut. Kalau kita ada kesempatan berkumpul dalam suasana santai, kadang muncul pernyataan, "memang orang suku itu begitu, bapak dulu kerja bareng dengan mereka juga begitu...bla..bla.." Alhasil kami memperoleh pembelajaran yang tertanam kuat dalam diri kami berbentuk kebencian pada suku lain.

Suatu malam, ketika saya sedang mendengarkan tape bersama teman Cina saya--oya kebiasaan mendengar tape bersama ini adalah hal biasa di desa kami. Bapaknya tiba-tiba marah-marah pada anak buahnya yang kebetulan Jawa. Setelah marah-marah, dengan menggerutu dia bilang, "dasar Jawa males!" Saya yang ada di situ tersenyum saja mendengarnya. Tidak ada yang aneh di situ karena saya tiba-tiba dianggap sama Cina. Kadang teman saya juga cerita kalau beberapa pegawai mereka--yang kebetulan Jawa semua--memang bertingkah aneh dan bagi mereka hal itu amat tidak masuk akal. Yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan kerja. Bagi pekerja Jawa itu bergerombol merumpi di pagi hari adalah hal biasa, ngopi dulu, atau saling menghutang satu dengan yang lain. Nah masalahnya bagi si empunya perusahaan, hal itu dianggap sebagai kemalasan dan juga sumber ketidakberesan. "Kalau saling ngutang itu trus pada musuhan kan repot Wid," begitu komentar teman saya. Kejadiannya berakhir pada saling menilai dengan pandangan yang keliru. 

Saya termasuk orang yang kaku, tapi dari berbagai pengalaman, memang perlu suatu "pengalaman bersama" supaya dianggap sama-sama Jawa atau Sunda. Berbagai pengalaman bersama ini tidak terakomodasi dengan baik di sekolah. Yang ada justru malah pembelajaran stereotip seperti diungkap oleh Guru saya tadi. Di kampung saya sendiri, saya dulu belum dianggap bagian dari komunitas di sana karena saya orang pindahan dari desa lain. Baru setelah saya ikut anak-anak di sana bermain ketapel dan mandi di sungai saya menjadi bagian yang integral dari mereka. Setiap ada kegiatan pasti diajak. 

Hanya saya sangat terkesan pada kearifan anak-anak. Ketika kanak-kanak, kita tidak berpikir dalam mengenai perbedaan itu. Setiap ada kesamaan motif dalam bermain dan dirasakan menggembirakan. Semua anak dari suku manapun bisa bergabung dan bergembira.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."