Kisah Cinta

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Saya sedang mendengarkan radio di kamar ketika teman saya datang dengan sepeda dan langsung masuk ke kamar saya. Waktu itu saya masih SMP. Dengan wajah gembira dia bercerita kalau dia barusan bertemu cewek yang benar-benar mengerti akan dia. Rupanya dia baru saja bertemu dengan kawan semasa SD dulu dan dia merasa temannya itu sungguh sangat mengerti dan bisa diajak ngobrol dengan enak. Dia lalu bercerita kalau temannya itu mentraktir dan mengajar makan di sebuah restoran dan mengajak dia bermain ke rumahnya. Sore itu juga dia akan mendatangi rumah si cewek.

Saya bengong saja dengan cerita teman saya ini. Bengong saya, kenapa dia begitu cepat mengambil kesimpulan kalau si cewek adalah benar-benar orang yang tepat? Kemudian, saya melihat kehidupan sehari-hari teman saya ini, dia saat itu tidak sekolah lagi. Pekerjaannya adalah tukang becak dan buruh. Lalu si cewek yang memang benar temen SD-nya itu adalah anak orang kaya dan saat itu sudah naik motor ketika berangkat sekolah--padahal masih SMP di sekitar tahun 1989. Lalu jawaban teman saya sederhana saja, "Wid kalau cewek mau nraktir dan mau ngajak kita main ke rumahnya, ya itu pasti senang. Itu Pak Kasim cerita, kalau dulu dia sering digratisin sama Mbak Goneng gorengan jualannya dan sekarang jadi istrinya. Itu tanda cinta." Saya tambah bengong saja. Sesederhana itu bagi dia.

Tak berapa lama kemudian, setelah teman saya pulang, datang dua teman lain. Mereka datang dengan niat yang lain lagi, "Wid, Dadek seneng dengan Oti, itu anak Pak Dayat. Gawat Wid, harus dicegah. Soale nanti kalau ditolak trus Dadek frustasi. Bisa gawat, nanti bisa-bisa rumahnya Pak Dayat dilempari batu." Dalam bayangan teman-teman saya yang kedua ini, Dadek pasti ditolak oleh Oti.

Saya kenal Oti, dia teman bermain di kampung. Kadang kami bermain bersama. Anak-anak kampung kurang bisa bergaul dengan dia karena sudah minder kepada kekayaan keluarganya. Tambahan Oti juga jarang menggabungkan diri dengan kita, pengakuannya ke saya, "Tidak boleh sama Mama--sebutan mama ini saja sudah bikin kita merasa berbeda". Saya bisa dekat dengan dia karena persamaan hoby saja, membaca. Dia punya banyak buku dan saya sering diajak bermain ke rumahnya untuk saling diskusi atau belajar bersama. 

Saya jadi terkejut juga dengan keterangan teman-teman kalau Oti yang disasar Dadek. Wah kalau begini bisa lain ceritanya karena dulu Ibu Oti pernah mengungkapkan kesebalannya kepada anak-anak sepeti Dadek. Tapi Oti sendiri orangnya sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Saya juga sering ditraktir bakso sama dia.

Perkembangannya, teman-teman punya rencana mengajak Dadek berkumpul dan menasehati Dadek untuk mengurungkan niatnya serta berkaca pada dirinya sendiri. "Lha aku apa hubungannya?" begitu pertanyaan saya. "Woooo, kamu itu bagaimana sih. Kamu kan kenal baik Oti, ya Oti dibilangin supaya jangan mengajak Dadek bermain ke rumahnya". Saya jadi bingung sendiri waktu itu. Bagaimana bilangnya dan dengan alasan apa saya bilang? Kok jadi rumit begini? Lha jatuh cinta kok tidak boleh.

Rupanya rencana teman-teman itu sudah matang banget. Mereka--ada empat anak--segera menjumpai Dadek dan akan melaksanakan niat mereka itu. Saya harus segera ke rumah Oti, begitu pesan mereka. saya bingung dan ragu-ragu untuk pergi ke rumah Oti. Jangan-jangan nanti malah saya yang dianggap ada apa-apa oleh Oti. Sore itu saya mendapatkan pelajaran pertama mengenai diskriminasi dalam pemahaman cinta. 

@@

Dunia kita semakin modern. Tapi yang namanya kedudukan tetap memainkan peranan penting dalam percintaan, disadari atau tidak. Di sini perayaan akan keberbedaan bisa menjadi sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan. Indah bila cinta berhasil melampui semua itu. Sakit bila malah timbul konspirasi untuk menggagalkan cinta itu. 

Sekarang ketika mengingat kisah itu lagi, saya belajar betapa pemahaman akan keberbedaan sangat penting dalam keseharian kita yang sangat beragam. Teman-teman saya di kampung tidak bisa menerima berbagai perbedaan dalam gaya hidup Oti dan mereka sangat keliru ketika menilai saya adalah bagian dari kebiasaan hidup Oti. Mereka pikir akan mudah bagi saya menyampaikan sesuatu kepada Oti hanya karena saya kadang bermain dengan dia. Padahal bagi saya suatu siksaan tersendiri "Bagaimana bilangnya nanti". Teman-teman dalam lingkaran prasangka mereka, membuat keputusan bersama yang memotong hak-hak Dadek untuk mengungkapkan perasaannya.

@@

Saya belum sempat bilang ke Oti ketika sore-sore di rumah saya dia menunjukkan surat Dadek kepada saya "Gimana nih Wid aku gak bisa begini. Dadek bukan tipeku". Aku hanya bisa bilang kalau teman-teman di kampung sedang berusaha menghalangi Dadek dengan berbagai argumen agar tidak mendekati Oti dan menenangkan Dadek jika terjadi apa-apa nanti. 

Akhir cerita ini jelas bisa ditebak. Oti kuliah dan Dadek tak berapa lama menikah dengan orang lain.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."