Saya Memilih Bernegosiasi

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 

Malam tadi komputer saya hang. Ini sudah ketiga kalinya dan aktor intelektualnya adalah orang yang sama. Ceritanya si aktor intelektual itu sedang senang-senangnya dengan komputer dan ingin mencoba banyak hal berkenaan dengan komputer. Karena komputer saya sering saya diamkan begitu saja di rumah dan tanpa password maka siapapun bisa mengaksesnya. Saya sendiri tidak begitu merisaukan hal itu, siapa mau belajar silahkan. Tapi resikonya memang kemudian sesuatu yang menjadi “milik publik” begitu akan sering bermasalah dan rawan kerusakan.

Malam tadi saya jengkel juga karena data saya hampir hilang. Tanpa permisi si aktor tadi hendak memformat ulang harddisk saya. Masalahnya data yang ada waktu itu tidak bisa diakses sama sekali. Saya memaklumi keberadaannya yang sedang senang-senangnya dengan komputer dan sedang coba-coba tapi saya sendiri memang jengkel dengan kejadian tadi. Saya akhirnya bisa bernegosiasi dengan orang tadi dan kemudian bersama-sama mencari solusi dalam memecahkan hang-nya komputer saya. Berbagai hal bisa saya ceritakan dan komunikasikan ke dia sehingga nanti jika ada apa-apa lagi komputer saya bisa relatif lebih aman.

Saya merasa selama ini saya kurang bernegosiasi dengan dia dan kurang mengkomunikasikan bagaimana keinginan saya ketika orang lain menggunakan komputer saya. Saya memang membebaskan siapapun menggunakan komputer saya tapi bagaimana komputer itu digunakan tidak begitu terkomunikasikan. Saya menyadari hal ini karena saya jengkel dan saya ternyata memiliki keinginan tersendiri ketika orang lain menggunakan komputer itu.

Begitu banyak hal di sekolah dan di tempat kerja dilandasi pemikiran semua beres dengan begitu saja. Guru merasa telah memberikan pelajaran dan itu sudah selesai dengan begitu saja. Terlupakan komunikasi dan negosiasi dan berbedanya proses pemahaman tiap orang.

Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Tetapi saya melihat  proses negosiasi dan empati untuk memahami orang lain sangat membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah. Kita cenderung diajar untuk berpikir cepat dan lupa proses. Pokoknya kalau tidak setuju babat saja. Tidak setuju berarti musuh dan perlu dimarahi. Di kantor saya sering menjumpai hal itu juga. Bukannya bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah, orang lebih senang membuat aturan-aturan yang justru kesannya menjatuhkan satu dengan yang lain. Seolah dengan aturan yang seragam semua terselesaikan begitu saja. Tapi orang lupa bahwa interpretasi ada di dalam beribu-ribu kepala dan untuk mensinergikannya diperlukan negosiasi. Bukan penyeragaman, karena kalau ada dua orang yang sama dan seragam satu pasti tidak berguna—dia tidak akan menyumbangkan pemikiran kritis lain. Statis jadinya.

Pendidikan memerlukan komunikasi dan negosiasi atau bisa dikatakan diskusi. Bukan perintah-perintah langsung tanpa dialog yang kadang malah membuat marah dan tidak jelas hasilnya.

Saya pikir sikap enggan bernegosiasi itu salah satu pendorong orang untuk melaksanakan kekerasan. Bernegosiasi kadang menyakitkan dan membutuhkan energi. Kalau sekali babat saja, orangnya mati dan masalah selesai saat itu walau itu di permukaan.

Saya memilih bernegosiasi.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."