• PDF

Kampus Kerakyatan dan Sekolah Biaya Mahal

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:17
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1814 kali
Tanggal 19 Desember 2006 kemarin, di kampus almamater saya, UGM, terjadi kerusuhan karena mahasiswa berdemo dan “menyerbu” gedung Grha Saba Pramana (mudah-mudahan tidak salah tulis). Para mahasiswa itu menuntut agar komersialisasi pendidikan dihentikan dan UGM dikembalikan menjadi Universitas Kerakyatan.

Saya melihat komersialisasi pendidikan, atau apalah namanya itu, memang menjadi hal yang sangat sulit dihindari. Perkembangan situasi dan kebutuhan memaksa kita membuat prioritas pilihan dan juga pengorbanan berbagai kepentingan. Saya pernah menulis bahwa pendidikan mahal. Itu jelas.

Tapi saya juga pernah menulis, kalau berbagai pihak menyadari pentingnya pendidikan dan saling bersinergi untuk memperbaiki keadaan ini—saya andaikan saja ini keadaan tidak baik—maka pendidikan akan lebih merata dirasakan oleh setiap individu. Contoh kecil saja, jika setiap alumni UGM, atau katakanlah suatu universitas lain, menyumbang 50 ribu per bulan setelah mereka bekerja kepada almamater mereka, maka dengan asumsi ada 2000 alumni, sebulan akan diperoleh dana 100 juta. Bisa dibayangkan jika berbagai pengusaha menyisihkan sedikit dananya untuk hal ini, maka pemerataan pendidikan menemukan salah satu jalan untuk mewujudkan diri. Dengan uang 50 ribu itu, di pedesaan kita masih bisa memberi santunan 5 bulan untuk biaya sekolah—SPP saja.

Saya hanya ingin bernostalgia, betapa ketika saya sekolah dulu, UGM merupakan dewa penolong bagi saya yang berasal dari keluarga sangat pas-pas-an. Saya bisa bergaul dengan banyak orang dan berkesempatan menimba berbagai pengalaman. Selain itu saya mempunyai akses ke berbagai lembaga dan orang yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Siapa sangka saya bisa ketemu Rendra, Umar Kayam, dan beberapa tokoh lain yang lumayan dikagumi di masa muda saya. Juga siapa sangka saya bisa jalan-jalan ke berbagai tempat karena saya ikut proyek penelitian dosen. Suatu yang tadinya hanya menjadi mimpi ketika SD bahkan SMA dulu.

Saya jadi tahu juga kalau gaya hidup orang kaya itu ternyata memang penuh percaya diri dan jauh berbeda dari kita yang pas-pas-an. Tetapi di sinilah situasi saling belajar terjadi. Suasana kerakyatan membuat mereka yang kaya belajar juga merasakan sulitnya mereka yang pas-pas-an dan kita yang pas-pas-an belajar gaya hidup mereka yang kaya. Paling tidak kita bisa makan bareng mereka makanan enak he..he..

Dulu ketika kuliah saya masih menemui banyak anak tukang becak atau buruh tani kuliah di UGM dan karena kepandaiannya bisa membiayai kuliahnya sendiri. Ada juga teman yang gayanya perlente sekali, selalu berbahasa Indonesia. Saya pikir dia dari keluarga super kaya, eh ternyata dia anak penjual tempe di Gunung Kidul yang berpikir, “Ji, aku harus bisa membiasakan hidup seperti ini karena nanti akan sangat berguna di pekerjaan”. Tahu tidak, sekarang dia menjadi seorang wirausahawan di bidang pariwisata. Saat ketemu dia tertawa ngakak jika mengingat masa pencarian dirinya di UGM dulu. Banting tulang dulu dia bekerja jadi buruh membiayai gaya hidupnya di awal kuliah. Ada juga seorang teman dari “pelosok” Temanggung yang belajar Sastra Inggris dengan sangat tekun dan dia sekarang di Jakarta menduduki posisi yang menurutnya “Bisalah mentraktir kamu”. Bapaknya “hanya” pengumpul kopi. Juga ada teman di Jurusan Teknik Nuklir, yang Bapaknya buruh tani dan jika ketemu selalu bilang “Mas nuklir niku rak nggih gawe bom ta, masak anak kula bade ndamel bom?” (Mas nuklir itu kan untuk membuat bom ya, mosok anak saya sekolah mau membuat bom?) Dan teman saya selalu bilang “Sulit menjelaskan apapun ke Bapak”. Sayang saya kehilangan jejaknya.

Banyak kenangan saya di UGM yang membuat saya rindu universitas itu menjadi universitas kerakyatan kembali. Saya tak habis pikir juga ketika dulu bisa kuliah. Teman-teman yang kuliah di universitas swasta memperlihatkan biaya yang sangat fantastis. Tapi biaya di UGM yang katanya disubsidi rakyat memang membuat iri banyak orang. Satu lagi, saya juga bisa tetap berpenampilan apa adanya tidak perlu mencari gaya yang aneka warna. Cukuplah beberapa kaos oblong, satu dua kemeja, dan satu jeans yang bisa dipakai berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Perasaan minder tetap ada, tapi atmosfir di sana banyak menolong untuk bersosialiasi.

Sekarang, jika saya masuk ke kampus saya dulu itu, semua berubah. Saya merasa menjadi orang asing. Kampus sepertinya menjadi kumpulan orang kaya. Pakaian para mahasiswa menjadi terasa sangat trendi dan suasana yang tercipta bukan suasana belajar atau diskusi tapi suasana mall. Hal ini dirasakan juga oleh teman-teman lain yang seangkatan dengan saya. Dengan biaya sekarang, bisa dipastikan para petani akan kalang kabut memasukkan anaknya ke UGM. Hilang juga kesempatan beberapa anak pandai dari kalangan pas-pas-an untuk menikmati jenjang pendidikan tinggi dan salah satu akses menuju tingkat kemajuan yang lebih baik.

Tentu saja saya tidak menyalahkan UGM, saya hanya berandai-andai jika pemerataan pendidikan benar-benar terjadi dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar setinggi mungkin. Saya rindu anak-anak kampung tidak hanya bercita-cita jadi “pembantu rumah tangga”.

Saya rindu ada gerakan bersama untuk pendidikan.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."