Mengkotakkan

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
Saya mempunyai teman yang sangat berpendidikan dan ahli di bidangnya. Lulusan universitas terkemuka pula. Orangnya ramah, mudah bergaul dan pandai menganalisis. Saya sangat senang berdiskusi dengan dia. Wawasannya luas dan banyak hal bisa didiskusikan dengan dirinya.

Tapi ada hal kurang begitu saya suka dari dia: kesukaannya dalam menganalisis orang. Seringkali dia mengkotakkan orang menjadi: oh dia itu plegmatik, dia itu melankolik, nah kalau dia itu introvert, ... jadi pendekatannya nanti gini, gitu, dan bla-bla-bla dia berteori....

Secara teori penjelasannya itu ada benarnya. Hanya saja penjelasannya seolah-olah adalah kebenaran sejati yang melekat pada orang itu. Seolah-olah penjelasannya adalah final dan dari Tuhan--maklum dia sangat religius. Bagi saya analisisnya itu kadang jadi menakutkan. Seolah-olah dialah kebenaran yang bisa menganalisis orang lain secara tepat. Peng-"kotakkannya" itu kadang juga membuat semacam tembok pemisah serta menjadi semacam apriori yang kadang menyesatkan. Dia seperti hidup dalam suatu "kebenaran" semu. 

Di sekolah, penghakiman seperti itu membuat kreativitas anak-anak kadang terganggu. Dengan apriori yang ada Guru cenderung bertindak sesuai apa yang dipikirkannya itu. Guru bisa seperti itu karena dia merasa memiliki pengetahuan yang lebih dari siswa dan merasa mempunyai wewenang untuk menentukan siapa anak didiknya. Pemahaman akan keberbedaan memang mensyaratkan suatu pengetahuan akan yang lain. Tetapi jelas pengetahuan itu bukan untuk menghakimi dan menutup berbagai kesempatan.

Sejak kecil kita diajak "mengkotakkan" orang lain dan memisahkan sesuai dengan kategori tertentu. Tidak salah sebenarnya mengingat hal itu sepertinya secara alamiah menjadi bagian dari kita. Saya katakan alamiah karena setiap orang pasti akan melihat yang lain dan membandingkan dengan dirinya. Jelas hal itu sangat dipengaruhi oleh budaya di mana orang itu hidup. Di sinilah kadang muncul hal yang sering membuat pengkotakkan menjadi hal yang membuat ribut. Orang kemudian mengkotakkannya menjadi musuh dan teman atau orang baik atau orang yang perlu diperbaiki atau kategori yang lain lagi. Penentuan siapa musuh, teman, atau bukan tentu saja lebih banyak berasal dari kebudayaan. 

Lalu bagaimana? Saya melihat dialog untuk mengerti adalah hal yang sangat penting. Pelajaran ini di sekolah sepertinya lebih sering diabaikan. Perintah militer dan dogma tunggal guru atau yang lebih berkuasa yang sering menjadi landasan. 

Mungkin perlu kurikulum khusus untuk hal ini. Bagaimana ada yang tertarik?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."