• PDF

Jangan Sakit Hati Ya!

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:23
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1747 kali
Pagi ini tadi perjalanan banyak orang yang searah dengan saya terganggu. Penyebabnya karena ada barisan Polisi yang sedang berlatih lari tanpa permisi langsung nylonong di perempatan yang berlampu merah. Banyak orang mengumpat karena mereka berpikir rombongan tadi sebaiknya juga memperhatikan posisi lampu merah yang saat itu sedang menyala. Akibatnya jalan jadi semrawut dan macet sementara. Sialnya Polisi yang saat itu bertugas juga membiarkan suasana tadi dan dengan enaknya malah bercanda bersama teman yang mendampingi.

Saya tidak tahu apakah memang aturan yang ada membolehkan para Polisi tadi tidak memperhatikan aturan lalu lintas yang ada. Seingat saya, ketika dulu saya ikut latihan baris-berbaris di jalan, begitu lampu merah kami juga ikut berhenti. 

Saya juga tidak bermaksud menyalahkan bapak-bapak polisi tadi. Hanya saja tiba-tiba saya ingat bagaimana perlakuan para pendidik, orang tua, pemimpin, orang yang dianggap tokoh, atau orang dewasa yang juga sering mengabaikan peraturan karena mereka merasa memiliki kuasa. Apakah bapak-bapak Polisi tadi bertindak mengabaikan peraturan karena kuasa, dalam hal ini saya tidak tahu.

Di sekolah, Guru-guru karena kekuasaan yang dimiliki bisa saja membubarkan sekolah dengan alasan yang tidak mendidik. Atau karena mereka merasa lebih tahu dari anak-anak maka pendapat merekalah yang harus dituruti. Alasannya sangat bagus, Guru itu adalah orang yang "di gugu lan ditiru", orang yang dipercaya dan ditiru tingkah lakunya, makanya kata-kata dan tindakan mereka haruslah diperhatikan. Salah atau benar pokoknya harus diikuti. 

Sadar atau tidak sadar perlakuan seperti di atas sering terjadi di sekolah. Alasan lain yang sering diutarakan untuk membenarkan tindakan atau memaksakan kehendak adalah alasan "lokal". Maksudnya mereka yang merasa sudah lama berada di sekolah itu atau di suatu daerah merasa lebih benar karena mengetahui semua seluk-beluk daerah tersebut. Otonomi daerah juga sering menjadi pembenaran. Karena otonomi maka semua dapat dilakukan sekehendak hati.

Kita kadang lupa, bahwa mendidik memerlukan kejujuran dan juga kerelaan untuk berdialog dan kadang sakit hati karena keinginan pribadi tidak terakomodasi dengan baik. 

Oya, omong-omong, kalau memang kita sakit hati karena keinginan pribadi tidak terlaksana, jangan jadi pendidik ajalah!!!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."