Melihat Konteks

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Dalam suatu diskusi yang diadakan lembaga tempat saya bekerja mengenai multikultur, seorang pakar bilang, "Mungkin kita itu tidak perlu sebenarnya pendidikan multikultur, soalnya anak-anak itu, apalagi SD tidak tahu dan tidak paham perbedaan. Kalau mereka diberi tahu perbedaan, nantinya malah jadi tahu dan mengerti bagaimana membedakan."

Seorang teman berujar lagi, "Ya, memang sulit ya memberikan pembelajaran kepada anak-anak dalam situasi yang plural. Kita jadi sulit sekali untuk jadi netral."

Ungkapan lain lagi, "Jangan-jangan semua yang kita pikirkan dan renungkan bukanlah yang dipikirkan anak-anak. Semua itu kekuatiran kita saja yang dipaksakan agar diterima oleh anak-anak."

@@

Di satu sisi benar juga ungkapan bahwa anak-anak kadang tidak memikirkan sama sekali perbedaan. Pokoknya kalau mereka memiliki permainan bersama yang menyenangkan, maka dari suku manapun dan golongan manapun, mereka dapat bermain bersama dengan gembira. 

Benar juga kalau kita orang yang merasa dewasa sering memaksakan kehendak dan merasa bahwa kita adalah yang paling benar. Jadinya kekuatiran kita juga kita paksakan sebagai kebenaran kepada anak-anak.

Benar sekali bahwa anak-anak pada taraf tertentu adalah pribadi yang masih belum tahu apa-apa dan justru bisa menjadi rusak jika dikenalkan pada sesuatu yang tidak membangun.

@@

Tetapi di satu sisi, fakta sosial dan juga kondisi lingkungan membuat anak-anak mengerti dan berpikir akan adanya suatu dinamika keberbedaan. 

Informasi yang membanjir dari tv, koran, gosip, dan bahkan internet membuat pola pikir anak-anak sekarang berbeda sekali dengan anak-anak pada jaman kita masih anak-anak.

Saya pikir pendidikan multikultur perlu dalam rangka persiapan bagi anak-anak untuk mengerti perbedaan dan juga menyiapkan mereka untuk bersikap terhadap perbedaan tersebut. Saya kurang setuju jika anak disterilkan dan dinetralkan sehingga tidak tahu apapun juga. Mereka butuh suatu kecakapan hidup untuk mengantisipasi lingkungan yang sekarang berubah dan selalu berubah ini. 

Nah masalahnya memang di dalam metode. Perlu dipikirkan metode yang benar-benar pas dan tidak membuat anak-anak justru menyerap yang buruk dari perbedaan-perbedaan yang ada. 

Saya melihat hal ini perlu karena yang terjadi di masa lalu adalah semacam ketakutan untuk mengerti perbedaan dan penyeragaman agar orang berpikir satu saja. Dan hal ini juga dilandasi suatu ketakutan akan adanya konflik karena berbeda tadi. Kita ini terdiri dari beribu kepala dan sikap kita terhadap beribu kepala itu yang perlu didialogkan. Bukan dibenamkan dan diseragamkan. Karena ingin seragam itulah maka kita jadi lari dari kenyataan.

Saya pikir pendidikan yang mengerti benar sifat anak-anak dan juga memikirkan keadaan lingkungan atau konteks sosial yang ada sangat dibutuhkan.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."