Tuhan Tidak Mempersulit Diri..

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Kemarin, saya berdiskusi sambil bercanda dengan teman saya. Kebetulan saya sedang menunggu seorang Ketua suatu lembaga yang lumayan sulit ditemui. Saya bilang, "Mau ketemu dia kok sulitnya seperti mau ketemu Tuhan". Langsung saja teman saya menyahut, "Ketemu Tuhan lebih mudah, kalau pemikiran sampeyan (anda) ketemu Tuhan itu sulit, payah dong..." Saya tertawa ngakak dengan argumentasinya yang mengandung kebenaran sejati itu.

Saya sedang memikirkan bagaimana beberapa orang begitu kesulitan bertemu dengan Tuhan. Begitu banyak informasi masuk dalam otak saya yang memperlihatkan betapa orang menjadi sulit bertemu dengan Tuhan. Kepercayaan saya, bertemu Tuhan itu hanya sebatas doa.

Pemikiran yang sering muncul adalah: Tuhan itu Maha Besar dan Raja, pastilah begitu banyak birokrasi yang muncul untuk bertemu dengan dia. Karena itu begitu banyak media disusun agar kita bisa bertemu dengan Tuhan dan mengalami Tuhan dengan sungguh-sungguh. Katanya media itu yang disediakan Tuhan agar Dia bisa ditemui dengan mudah. 

Pertanyaan teman saya yang lain, "Kalau benar Tuhan itu mudah ditemui, mengapa begitu banyak cara diciptakan agar kita bisa bertemu dengan Dia?" Apakah memang benar itu alat-alat yang diciptakan Tuhan agar bisa bertemu dengan Dia?

Kadang klaim cara yang paling benar itu yang kemudian menjadikan situasi menjadi runyam dan menimbulkan saling tuduh. Tidak bisa dipungkiri agama menjadikan kita semua justru terkotak dan terkotak lagi. Apalagi klaim yang muncul adalah kebenaran sejati.

Saya malam tadi mengikuti dzikir-an yang diadakan sebagai salah satu acara pertemuan RT. Seperti biasa saya menjumpai orang yang trans dan bergoyang-goyang mengukuti irama doa. Situasi ini bagi saya mirip dengan keadaan ketika orang di gereja berbahasa roh dan merasa sedang berbicara dengan Tuhan. Saya tidak membahas siapa benar siapa salah di sini. Tapi saya melihat perlunya pemahaman akan spiritualitas yang bisa melihat keberadaan orang lain sebagai sahabat yang memiliki cara ibadah tersendiri. 

Ok. Saya bisa dianggap sebagai orang yang tidak berdiri kukuh pada iman saya. Hanya saya beriman bahwa Tuhan terbuka kepada semua orang untuk bertemu dan bukan hak kita menghakimi cara orang beribadah. 

Pembelajaran untuk bisa menerima berbagai hal itu sungguh sangat diperlukan di sekolah-sekolah. Saya masih sering menjumpai guru agama menjelekkan orang lain atau agama lain atas nama pelajaran agama yang dia anut. Bukankah ini pembelajaran dari kecil untuk saling membenci dan mempersulit orang bertemu Tuhan?

Bagi saya penghakiman adalah hak Tuhan.

Salam berbeda!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."