• PDF

Kecerdasan Budaya?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:24
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 3810 kali
Sore itu hujan deras baru saja berhenti, saya baru saja pulang kantor dan "mampir" di sebuah mini market--heran pasar-pasar kecil tradisional tidak disebut mini market ya? Sebuah toko kecil yang lumayan lengkap menyediakan kebutuhan sehari-hari. Tokonya bersih dan pelayannya memakai seragam. Tampak cantik pula. 

Tanpa sengaja saya menoleh ke seberang jalan dan melihat seorang bapak-bapak tua hendak menyeberang. Pakaiannya lusuh, memakai celana pendek dan sandal jepit. Dipinggangnya terlilit sarung dan peci kumal menempel manis di kepalanya. Dia menyeberang dan langsung menuju pintu mini market yang hendak saya tuju juga. Saya tertegun dari jauh memerhatikan dia. Sampai di depan pintu, dia tampak ragu-ragu dan wajahnya memancarkan ketakutan. Mau membuka pintu toko tapi ragu-ragu dan takut. Dia memberanikan diri membuka dengan tangan bergetar--sungguh bergetar. Lalu dia melepas sandalnya dan masuk dengan hati-hati sekali ke dalam toko. "Celingukan" ke sana kemari bingung mau berbuat apa akhirnya bapak tadi menanyakan obat sakit kepala kepada kasir. Si Kasir seperti biasa hanya berkata, "Itu Pak cari sendiri di rak sana".

Saya takjub dan tidak terpikir untuk menolong Bapak itu. Dia tampak bingung dan hanya diam seribu bahasa. Dia tidak tahu mau berbuat apa--setelah keluar baru saya berpikir, pasti dia juga tidak bisa membaca. Si Kasir akhirnya menolong Bapak itu.

Saya takjub karena melihat suatu contoh nyata kejutan budaya dan juga contoh bagaimana kita hidup di dunia yang berubah sangat cepat. Bapak tadi jelas tidak bisa mengikuti percepatan perubahan yang ada. Dia belum bisa menerima perubahan dan budaya baru dalam berbelanja. Saya takjub karena peristiwanya bagi saya dramatis sekali. Orang sakit tidak bisa membaca datang ke mini market dan hanya bengong di sana. Berkali-kali saya mellihat kejadian yang mirip walau dengan setting berbeda tapi tetap saja merasa betapa saya sendiri sering terkejut dengan berbagai perubahan dan juga pertemuan dengan budaya baru. Dulu waktu di kota kelahiran saya baru ada super market orang begitu tampak aneh dan berlomba-lomba datang ke sana dengan cerita dan tingkah yang mungkin dalam istilah Thukul Arwana "Ndeso". Cerita orang terjatuh dari eskalator (tangga berjalan) saat itu menjadi hal yang sangat riuh rendah dibicarakan. Di sekolah saya sempat ada pelajaran etika berbelanja di super market. Katanya kalau kita ke sana harus berpakaian rapi, tidak boleh memakai celana pendek, dan kalau bisa memakai sepatu. Mungkin karena itu saya dan beberapa teman pernah di usir dari super market gara-gara masuk memakai jaket jeans lusuh, kaos oblong, sandal gunung, dan celana pendek. Padahal kita waktu itu ingin cari minum karena kelelahan dari bersepeda keliling. 

Saya tidak sedang berbicara mengenai etika berpakaian atau sopan santun tapi pertemuan budaya yang setiap hari kita jalani dan lakukan. Pertemuan itu memerlukan dialog untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan. Seringkali pertemuan seperti itu tidak kita sadari menimbulkan perselisihan. Saya berpikir dalam dunia yang berubah begitu cepat suatu pemahaman dan kemampuan untuk merasakan budaya orang lain menjadi sebuah kecerdasan yang amat perlu ditanamkan. 

Mungkin saya akan menyebutnya sebagai kecerdasan budaya. Suatu kecerdasan untuk berempati terhadap budaya lain dan menerima perbedaan yang ada. Waktu saya sekolah SD-SMP dulu ada pelajaran seni dan budaya, hanya saja bukan pelajaran seperti itu yang saya maksud. Pelajaran yang dulu saya terima lebih menempatkan budaya sebagai suatu karya peradaban atau bahkan budaya disamakan dengan karya seni saja. Budaya di sini lebih berkait kepada pola pikir, kebiasaan, dan tentu juga hasil karya seni atau peradaban. Saya pikir kita perlu sampai ke arah tersebut mengingat begitu pluralnya bangsa kita. Dengan empati tersebut diharapkan kita bisa merayakan perbedaan dan hidup bersama dengan lebih damai.


Saya punya artikel mengenai pendidikan multikultur. Saya sih dapatnya dari internet dan tidak ada copyrightnya. Tapi kalau ada nanti saya tarik dan minta maaf yang sebesar-besarnya. Yang menulis seorang antropolog terkenal dari UI.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."