Kita Belajar Menjauh Dari Kenyataan

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Saya bertemu seorang dosen dari sebuah universitas swasta di Jogjakarta. Kebetulan dia adalah donatur salah satu siswa dampingan kami. Dalam sharingnya dia menyarankan agar pendampingan yang dilakukan terhadap anak-anak beasiswa binaan kami melibatkan pelajaran seperti memasak, membuat prakarya, menanam jagung, atau membuat layang-layang. Menurut dia hal itu akan sangat membantu anak-anak memahami bahwa dunia ini bukan dunia yang bisa seenaknya dihuni dan memunculkan segala sesuatu dengan tiba-tiba. 

Saya bingung dengan pernyataannya itu. Usut punya usut dia sedang kecewa berat dengan para mahasiswanya yang dia anggap senang dengan budaya instan. Kalau instan cepat lulus dan dilakukan dengan benar dia setuju. Tapi dia melihat para mahasiswanya itu tidak begitu senang proses dan sukanya ambil jalan pintas. Kalau diajari suatu metode tertentu (dia dosen arsitek) mereka lebih senang mencontek dan mencomot karya orang lain untuk dikumpulkan sebagai karya mereka. "Kalau diajari cara ngukur, mereka tidak lalu mau praktek ngukur mas, tapi tanya orang, dan sudah, tidak mau tahu prosesnya mengukur itu bagaimana"

Saya sendiri tidak tahu pelajaran di arsitektur, tapi dari ceritanya saya menangkap kalau siswanya tidak begitu suka pelajaran yang sifatnya praktek langsung. Mereka lebih suka langsung terima hasilnya saja.

"Terus ini lho mas, saya tidak tahu pendidikan itu bagaimana ya, saya punya mahasiswa dari Indonesia Timur, minta mesin fotokopi ke orang tanya, katanya tugas fotokopi banyak. Lha mereka gak mikir pa ya kalau kamar kost itu sempit gitu. Kalau pakai yang fotokopi dan printer itu rak ya gunane ki apa to Mas. Heran saya mahasiswa-mahasiswa dari sana itu malas-malas tapi yang dari jawa ini sukanya juga pingin menang sendiri. Asal contek aja"

Keluhannya saya pikir bukan karena dia mau memberi stigma kepada orang Indonesia Timur atau Jawa tapi karena dia sadar: ada yang kurang dalam pendidikan kita. 

Nah menurut teman dosen itu, kekurangannya adalah karena pendidikan jsutru mencerabut orang dari akarnya "Coba bayangkan Mas, saya itu punya anak asuh di rumah, asalnya dari desa, dan bener-bener gak mampu, eh, anaknya itu tak suruh bikin nasi goreng aja gak bisa. Blas gak bisa! Nanam bunga ya gak bisa. Lha nanti kalau besar mau bertahan hidup bagaimana coba?"

Begitulah, kita belajar menjauh dari kenyataan yang ada di sekitar kita.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."