Mau Dibawa Ke Mana Negara Kita Ini? (Sebuah Diskusi Ngalor-Ngidul)

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Malam itu, sambil menyantap mangut lele dan gurame goreng, saya ikut berdiskusi dengan seorang Romo, seorang manager training sebuah perusahaan otomotif besar di Indonesia, dan seorang sekretaris salah satu konglomerat di Indonesia. 

Makan malam itu sendiri diadakan atas undangan sang sekretaris yang akan mengajak kami--peserta diskusi yang lain--menengok sebuah sentra pertanian yang dibangun oleh konglomerat bos sang sekretaris. Diskusi terasa hangat ditambah dengan kopi hangat yang aromanya sangat menyegarkan.

Diskusi dimulai dari keluhan sang manager melihat kualitas pendidikan di negeri ini dan kesenjangan yang terjadi antara kota dan desa. Dia sangat prihatin dengan keadaan pendidikan di Irian yang baru saja didatangi oleh dia. Berhari-hari dia di Irian mencari bibit-bibit muda untuk dilatih agar menjadi teknisi handal di pabriknya. Program ini katanya diadakan untuk ikut memajukan bangsa ini. Menurut dia sistem pendidikan di sana tidak terurus dan terbengkalai, padahal banyak anak muda yang cerdas di sana. "Ya bayangkan sajalah, dengan sistem yang kurang bagus eh, banyak anak muda cerdas, itu kan hebat, bayangkan jika sistemnya dikelola dengan baik, pasti hasilnya lebih maksimal" Tapi di sisi lain dia bercerita juga bagaimana masyarakat di sana masih belum siap menghadapai modernisasi "Baru keluar dari jaman batu," begitu komentarnya. 

Sang Romo juga mengungkapkan hal sama, betapa ada banyak keanehan di Indonesia ini. Tapi dia justru melihat bahwa orang di Jawa yang katanya dekat dengan kemajuan juga belum siap menghadapi modernitas. "Mahasiwa yang di Jawa sekarang itu tidak disiplin sama sekali lho, mereka juga tidak tahu tanggung jawab dan manja, wong buat beli buku mereka enggan kok, mending tidak makan asal bisa beli rokok ama pulsa." Romo ini mengurus banyak mahasiswa dan berusaha membantu mereka mencapai cita-citanya dengan berbagai training dan juga bantuan beasiswa. Tapi dia sering merasa "gregetan" dengan kondisi mahasiswa yang dinilai sering malas, tidak tahu tanggung jawab, tidak sopan, dan tidak tahu mau ke mana arah hidup mereka. Saya sendiri lebih banyak menanggapi dengan contoh di tataran anak SD dan cerita sana-sini yang mendukung Romo tadi. 

Sang manager tadi kemudian mengungkapkan kebingungannya juga, "Iya sistem pendidikan kita ini katanya rusak tapi saya ada "***** Day" (nama perusahaannya) di *** (nama sebuah universitas di Jogja) banyak anak pinter tuh, berarti kita itu punya potensi besar sekali lho?" Tapi bagi dia kemudian, "tapi di hati kecil saya itu sebenarnya nelangsa juga, anak-anak pintar seperti itu hanya jadi pegawai atau teknisi di perusahaan kami, coba saja kalau mereka bisa menciptakan peluang sendiri, wah bangsa kita bisa hebat." 

Sang Romo menjawab, "Sulit Pak, soalnya kita itu tidak kerja saja bisa makan kok, ndak mikir saja bisa makan, kemarin di Irian itu, saya jumpai mereka gak ngapa-ngapain, ya makan tuh, pergi mancing sebentar dah dapat. Satu sisi mereka arif tidak serakah, tapi satu sisi, berhenti dunia mereka, padahal di luar sana dunia didorong maju dan berubah."

Pak manager tadi menjawab, "Lha mau dibawa ke mana negeri kita ini ya Romo, ayo kamu Wiji yang muda tuh pikirin."

Romo tadi menjawab dengan enteng, "Ya gak usah dibawa ke mana-mana, wong ngurusi isinya saja belum beres kok mau dibawa ke mana-mana. Kita itu belum merdeka dari kemalasan dan kekayaan alam sendiri. Jadi mikir benahi diri sendiri dulu, jangan mau dibawa ke mana-mana. Lha tasnya gak cukup untuk dibawa ke mana-mana."

Kami tertawa karena menyadari betapa kita sering melupakan diri melakukan pembenahan di dalam dan hanya mencoba bermimpi. Mau terbang lupa kalau pesawat itu ya butuh sekrup untuk merekatkan tubuhnya agar bisa terbang. Tubuhnya sudah dipikirkan eh sekrupnya lupa disiapkan.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."