Semua Marah-marah ...

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 

Siang itu saya bertemu seorang psikolog di sebuah universitas di Jogjakarta. Dia minta film yang barusan dibuat oleh Tim di tempat kami kerja. Dia tertarik dengan ide dalam film itu yang mengajak anak-anak untuk peduli kepada sesama tanpa memandang perbedaan. Filmnya pendek dan kata dia sih punya banyak simbol agar menyelesaikan permasalahan tidak dengan marah-marah (he..he..promosi nih...kalau mau pesen bisa kontak saya..)

Cerita berlanjut kepada pengalaman dia membantu membangunkan rumah bagi mereka yang membutuhkan. Dia merasakan betapa dia menjumpai kemarahan dan rasa curiga memenuhi hampir semua pertemuan yang dia lakukan. "Wiji, orang-orangnya itu sopan-sopan dan baik-baik kok, tapi aku tuh merasa atmosfernya marah dan curiga, aku jadi bingung, mau membantu kok malah dicurigai dan lom apa-apa dianggap nanti ada penyelewengan."

Saya teringat masa kecil, di mana tetangga yang "padu" atau bertengkar menjadi hal biasa dan bahkan sering terjadi. Untuk hal-hal kecil pertengkaran bisa meledak tak karuan dan teriakan-teriakan dari mereka yang bertengkar merupakan pembelajaran tersendiri. Kosa kata kami, anak kecil, bertambah. Tapi celakanya kita jadi belajar untuk menyelesaikan masalah dengan bertengkar. Dalam keseharian, di waktu kecil dulu, kalau kita tidak berani bertengkar--dalam arti berkelahi--maka kita dianggap penakut dan pengecut. Kemudian yang namanya balas dendam dan curiga akan semakin menjadi jika ada orang di luar kelompok bermasalah. Tawuran antar desa merupakan pengalaman yang mengerikan ketika remaja dulu. 

Nah di sebuah sekolah, baru saja, Sabtu kemarin ini (250807), beberapa Guru dengan membentak-bentak menasehati siswanya agar tidak mencecerkan cat ke lantai. Kami sedang mengajak anak-anak mengecat bambu yang akan mereka jadikan tabungan. Tabungan itu disiapkan untuk membeli peralatan kebersihan yang tidak ada di sekolah itu. Sudah kami ungkapkan ke anak-anak kalau lantai kotor bisa dibersihkan, asal kita mau bekerja keras di situ. Tapi bagi guru "Dibilangi saja sulit kok Mas, apalagi dibiarkan, mereka itu kalau tidak dimarahi gak akan ngerti."

Guru-guru sendiri tidak sadar kalau mereka pingin menanamkan kebersihan mestinya bukan hanya dibilangi tapi juga dipraktekkan. Sementara peralatan untuk praktek membersihkan tidak ada sama sekali. Lha ini mereka mau nabung untuk hal itu, mereka malah dimarahi karena dianggap mau mengotori lantai dan tidak dipercaya bisa membersihkan.

Saya tidak tahu mengapa, tapi sepertinya Guru-guru berpikir bahwa "semua akan beres jika dibilangi saja." Apalagi jika ditambahi dengan marah. Biasanya memang anak-anak trus berhenti tidak mengotori lantai tapi prosesnya terpotong dan pengetahuan bersihnya tidak tertanam gara-gara ketakutan saja.

"Wiji, ada tidak pelajaran anti marah di sekolah?" dosen tadi bertanya kepada saya. "Kalau ada barangkali sekolah tidak jalan Bu, soalnya guru-guru biasa marah"
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."