• PDF

Mendidik Adalah Memraktekkan

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:28
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 2673 kali
"Payah ki Mas, anakku sudah tak ajari untuk naruh sepatu di tempatnya, pulang sekolah ya masih sembarang saja menempatkannya". Begitu keluh kesah seorang teman kepada saya. Sepele sebenarnya tapi ternyata setelah kami diskusi ke sana kemari, ada banyak hal di waktu kecil yang kita anggap salah kembali terulang dalam kehidupan anak-anak kita. Dan sepertinya kita tidak bisa "ngapa-ngapain lagi". 

Pertanyaannya kemudian, apa hal-hal seperti itu bersifat genetis ya? Kalau orang tuanya nakal ya anaknya nakal. Kalau anaknya suka semrawut berarti ya orang tuanya semrawut. Banyak yang menyangkal hal ini tapi banyak juga yang mengiyakan. Sepertinya ada hal-hal yang bersifat genetis dan tidak bisa dirubah sama sekali. Kalau kamu berasal dari keluarga miskin maka kamu akan tetap miskin dalam arti sesungguhnya ataupun kamu jadi kaya tapi tingkah lakumu seperti orang miskin. 

Hmm..sebagian memang menjadi misteri, tapi sebagian mungkin juga bisa dijelaskan. Jika kita melihat bahwa manusia sebenarnya belajar dari sistem ataupun kebudayaan di mana dia hidup saat ini untuk menentukan tingkah lakunya maka sebenarnya apa yang dia lakukan akan mencerminkan di mana dia hidup saat itu. Apa yang paling berpengaruh bagi kehidupannya itulah yang memunculkan tindakan.

Berangkat dari situ saya percaya bahwa ada banyak hal tergantung bagaimana kita menyikapi hal-hal kecil di sekitar kita. Artinya apa yang kita lakukan saat ini tak jauh dari bagaimana kita membiasakan diri dalam bersikap ataupun belajar dari lingkungan. Jadi lingkungan amat berpengaruh bagi kehidupan kita. Dan nampaknya tanpa sadar--atau mungkin itu kesadaran yang otomatis--kita sering berperilaku lain dari yang kita ajarkan alias kita mengajar jangan berbohong tapi kenyataannya kita berbohong. Saya sering mengalami sendiri hal itu. Pada anak-anak saya mengajar kalau membuang sampah itu harus di tempat sampah, jangan di selokan. Kenyataan di kampung saya, membuang di selokan adalah hal biasa dan tak berdampak apapun bagi selokan tersebut--ini pandangan banyak orang di kampung. Tak ada rasa bersalah sama sekali. Saya tahu itu tidak baik tapi karena masyarakat sekitar rumah saya menganggap hal itu baik, saya dengan sadar membuang ke sana juga. Saat ini selokannya kering dan saya membenarkan diri dengan hal ini "Toh nanti daun-daun yang saya buang ke sana membusuk dan jadi tanah, tidak menganggu apapun juga". Hanya anehnya di pertemuan RT mereka itu sadar juga kalau ditanya bahwa membuang di selokan itu kurang pada tempatnya. Tapi, "ya buang ajalah Mas, wong itu tidak apa-apa kok"

Ya sering sekali kita mengajar tanpa mempraktekkan dan hal itu dianggap hal biasa. Tidak salah sama sekali. Atau mungkin kita belum pernah berpikir bahwa hal itu memang berguna untuk anak-anak atau generasi yang akan datang. Saya sering mengajari anak-anak kalau menunda pekerjaan itu tidak baik. Tapi, saya itu, suka sekali menunda pekerjaan. Istri saya sering jengkel karena hal itu. Di sekolah, guru-guru yang saya jumpai, mengajarkan kerapian, tapi meja dan kelasnya berantakan. Guru mengajar agar tidak merokok, tapi, walaupun itu tidak dilakukan di kelas, mereka tetap merokok. Alasan untuk pembenarannya brilian juga, "Mas, kita itu ya tahu tempat dan tahu dirilah kalau mau merokok, itu kan tidak apa-apa."

Hmmm...saya terus terang masih belajar untuk konsisten dalam hal kata dan tindakan.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."