• PDF

Beda Kota Beda Desa?—Sebuah Refleksi

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:28
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 3269 kali
Saya sedang merasa bahwa saya menjadi orang aneh. Tetangga-tetangga selalu bertanya mengapa kami pergi begitu pagi dan pulang begitu sore ketika bekerja. Jam kerja kami—saya dan istri—serta jarak tempat kerja membuat kami selalu tiba sore sekali. Sementara bagi penduduk di kampung kami, bekerja dimulai sekitar jam 8 pagi, kemudian jam 10 istirahat, makan-makan, kemudian jam 12 sampai 13 selesai, istirahat lagi dan jam 16 kerja lagi. Ya, sebagian besar penduduk kampung di mana saya tinggal adalah petani dan tetangga di sekitar rumah saya petani. Rumah saya ada di dekat sawah dan kadang teras rumah kami dijadikan tempat istirahat. Maka wajar saja mereka selalu bertanya di mana kami siang-siang kok tidak pernah kelihatan.

@

Lain lagi pengalaman ketika saya menjadi freelancer (mudah-mudahan nulisnya bener..he..he..) di pinggiran kota Jogja. Waktu itu kami masih kost dan istri saya juga belum memiliki pekerjaan tetap. Kami sering merasa asing karena pagi-pagi hanya kami berdua yang berada di rumah—eh kamar kost ding. Tetangga pergi kerja dan jadilah kami selalu ditanya oleh Ibu kost, “Kok tidak kerja Mas?” Menjelaskan kalau pekerjaan saya fleksibel dalam hal waktu bukan barang mudah juga.

@

Di beberapa sekolah yang berada di pedesaan saya menjumpai kalau jam kerja pedesaan seperti di kampung saya yang digunakan sebagai patokan dalam kegiatan belajar-mengajar. Kadang jam sepuluh anak-anak sudah diajak pulang karena ada alasan kegiatan desa. Atau sekolah libur karena ada kenduri di suatu kampung. Jadi anak-anak tidak dibiasakan berpikir bahwa nantinya mereka juga akan menghadapi persaingan di perkotaan ataupun kebiasaan yang lain dari daerah asal anak-anak tersebut. Tentu saja hal itu tidak salah. Toh dalam belajar berbagai kebiasaan tersebut perlu dikenalkan kepada anak sebagai sebuah alternatif. Maksud saya, keputusan menggunakan waktu seperti di kampung bagi anak-anak tidak masalah asal mereka bisa belajar dari berbagai hal tersebut. Tapi belajar tata cara dan logika daerah lain yang mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak adalah suatu hal yang sangat diperlukan juga. Bagaimana mereka akan bisa mengerti kinerja pabrik jika dalam seting otak mereka selalu terpatri, jam 10 harus istirahat? Misal saja ini, karena ada juga pabrik yang istirahat di jam 10.

@

Kadang pendidik lupa bahwa kita belajar bukan hanya untuk melanggengkan hal-hal yang sudah biasa kita lakukan tapi juga menerima bahwa ada cara dan alternatif lain yang bisa dijajagi dan dijalankan. Kalau anak-anak mengerti bagaimana mengantisipasi berbagai perubahan karena daya kritis mereka terasah, bukankah ini pelajaran lifeskill yang amat diperlukan? Sehingga mereka menjadi orang yang siap menghadapi dunia yang selalu berubah. Tapi seringkali karena alasan tradisi maka perubahan menjadi sulit dilakukan dan meng-asing-kan banyak orang.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ika  - biasa aja   |114.59.5.xxx |05-12-2009 20:28:45
terimaksih infonya, tapi cuma dikit bgt. ceritanya kurang banyak mas.....
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."