• PDF

Gen Korupsi?

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:29
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1837 kali
Di rumah saya sedang ada tukang kayu. Mereka sedang saya minta membuat pembatas ruang dengan kayu dan dihiasi kaca di tengah-tengahnya. Tukangnya baik dan senang bercerita. Pekerjaannya di awal-awal saya nilai cukup bagus.

Tapi belakangan saya merasa curiga dengan beberapa hasil kerjaannya tersebut karena terkesan kurang kukuh dan kurang rapi. Akhirnya karena penasaran saya cek pekerjaannya itu.

Ternyata, untuk menutup lubang di sela-sela kayu yang digunakan untuk memasang kaca, dia menggunakan kertas koran sebagai dasar baru kemudian diberi “plamur” untuk menambal lobang di sela-sela kayu tersebut. Beberapa lobang di kayu saya lihat juga diperlakukan dengan hal sama. Saya tanya ke mandornya, hal itu tidak boleh dilakukan karena kalau korannya busuk bisa merusak kayu.

Saya tanya ke bapaknya, mengapa dia melakukan hal tersebut. Jawabnya, “Wah maaf Mas, nanti saya bongkar lagi, saya pikir biar irit saja”. Lalu saya tanya ke atasannya—yang kebetulan teman saya—apakah dana yang diberikan ke dia kurang sehingga dia melakukan hal serupa tadi. Jawabannya, “Memang sering begitu Mas, ambil selisih untuk masuk kantong, sebelnya kalau mengerjakan proyek besar, mereka tiba-tiba mengadakan rumus pengiritan sendiri dan menghadap saya untuk minta bagian karena telah berhasil membuat irit. Mereka pikir itu prestasi, lha mati di saya kan, wong nanti pemiliknya bisa komplain” Saya baru ingat kalau mandornya memang dua hari ini tidak ikut mengawasi.

@@

Di sekolah, anak-anak sejak kecil terbiasa mencari jalan pintas seperti tukang tadi. Ketika diminta membuat prakarya maka orangtua atau kakak sering ikut membuatkannya. Pokoknya agar nilainya bagus. Kalau tidak bagus repot nanti. Atau kasus yang baru saya alami, seorang guru memaksa panitia menaikkan skor ujian untuk sertifikasi guru dengan alasan yang menurut dia sangat mulia karena telah membantu banyak orang. “Saya itu biasa mengatrol nilai siswa, jadi tolong nilai saya itu juga dikatrol, sudah banyak siswa lulus karena saya dan sekarang mereka jadi pegawai atau orang penting!”

Mau tahu di mana Guru itu berbicara? Di kantor Cabang Dinas Pendidikan sebuah kecamatan di Jogja. Di depan Kepala Dinas dan beberapa guru ikut mengiyakan pendapatnya itu. Tapi syukur banyak juga yang tertawa dan menyalahkan Guru tadi.

Ketika anak-anak sebuah desa diminta menceritakan apa yang baik di desanya maka salah satu yang mereka ceritakan adalah: bahwa proyek pengerjaan jalan dan rumah pertemuan di kampungnya berhasil dengan baik dan semua orang dengan adil mendapat bagian keuntungan. Adil semua dapat. Usut punya usut, ternyata 4 RW di kampung itu mengajukan proposal semua. Hanya satu RW yang mendapat dan proyeknya lumayan besar. RW lain protes karena mereka merasa telah bekerja keras membuat proposal kok tidak gol. Nah demi kebaikan dan kerukunan desa tersebut maka ada pemangkasan internal agar semua RW mendapat jatah bantuan tersebut. Kata salah seorang bapak yang kami temui, “Harus gitu mas, kalau tidak semua dimakan RW-nya dia saja. Yang untung cuman orang-orang tertentu.”

@@

Begitulah ...
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."