• PDF

Semuanya Hanya Legalitas…

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 18:29
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 1959 kali
Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. (Roma 3:20)

Upaya penegakan hukum di Indonesia sekarang sedang benar-benar digalakkan. Semua orang sepertinya berteriak bahwa kebenaran lewat hukum perlu ditegakkan sedemikian rupa agar kehidupan berjalan dengan lebih baik. Semua perlu ditata dalam suatu perangkat hukum yang jelas. Kalau salah maka akan dijebloskan ke penjara atau kalau perlu ditembak mati.

 

Peliknya persoalan hukum ini saya rasakan ketika ada salah satu mitra guru dampingan kami dinyatakan menyelewengkan dana bantuan yang harusnya diberikan kepada anak didiknya. Pelik karena ternyata ukuran benar dan hukum di mata mereka yang ikut terlibat dalam penyelewengan ini tidak sama. 

Masalahnya sederhana saja, ketika ada pembagian buku dan alat tulis untuk siswa beasiswa dampingan kami Guru tadi memutuskan untuk mengajak siswa yang memperoleh beasiswa berbagi kepada anak-anak yang belum memperolehnya. Hal itu bisa terjadi karena tidak semua anak di sekolah di mana Guru itu mengajar mendapat beasiswa padahal siswa yang mendapat beasiswa mendapat paket alat tulis yang lumayan banyak dan bahkan bagi ukuran di sana berlebih.

Tapi Guru lain dan salah satu staf kami melihat itu adalah penyelewengan. Hukumnya: alat tulis itu diperuntukkan bagi siswa tertentu bukan untuk dibagi. Hak si anak terkurangi. Maka Guru yang berinisiatif membagi tadi adalah guru yang menyelewengkan bantuan yang sudah diberikan. Soalnya dia mengambil inisiatif agar anak-anak membagikan buku itu kepada teman yang lain. Tuduhan lain: dia memaksa anak-anak untuk membagikan barang itu.

Saya memutuskan bahwa kebijakan guru yang mengajak siswa untuk berbagi bisa dibenarkan. Maka protes dan kecaman dari mereka yang katanya menganut paham kebenaran datang bertubi. Nama saya sekarang yang jadi pertaruhan dan gosip beredar di sana-sini kalau saya adalah orang yang tidak berintegritas. Dan beberapa orang sepertinya jadi menjauh dari saya juga….

Argumen saya untuk pembenaran itu adalah: kita sedang mengajak anak untuk belajar berbagi dengan yang lain. Dan segera saja dipatahkan dengan telak: wong mereka orang miskin yang diberi kok malah diajar berbagi. Apa tidak salah sasaran? Guru yang setuju dengan pembagian berkomentar: kita itu ya ada bela rasa dengan mereka yang tidak mendapat, toh hanya sedikit saja yang dibagikan. Kecaman datang lagi: Kita itu tidak mengajarkan kebenaran kalau begitu, siapa yang tidak setia dalam perkara kecil maka dia tidak akan setia juga dalam perkara besar.

Saya sendiri melihatnya begini: kehidupan tidak hanya dijalankan oleh hukum semata, tapi ada yang namanya budaya yang justru menjadi salah satu landasan dalam penciptaan hukum. Budaya saya pikir harus ikut dipertimbangkan dalam menentukan banyak hal, tidak di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia. Dengan budaya yang juga di dalamnya mencakup soal seni, etika, dan juga cara hidup maka kepekaan manusia terasah dengan sempurna. Di sana pertimbangan hukum tetap berlaku tapi juga keputusan yang mengandung nilai-nilai budaya dan ikut menghidupi masyarakat tetap terpelihara.

Jika kita menganut apa yang namanya legalistas saja, maka segala bentuk kekerasan yang berlaku belakangan ini adalah legal dan menurut hukum benar. Karena hukumnya: ada yang dilarang dan kita merespon untuk menggugat yang dilarang tersebut. Hukum dari yang menjalankan kekerasan adalah: bagi kami hukumnya adalah perang. Kami melakukan tanggungjawab kami untuk melindungi agama.

Cukup merepotkan jika yang jadi ukuran hanyalah hukum. Semua nanti jadi legalitas saja, orang melaksanakan sesuatu hanya dengan aturan tanpa hati dan perasaan cinta kasih.

Dalam kasus membagi barang tadi saya melihat konteks budaya berbagi dan gotong royong menjadi bagian penting dalam proses tadi.

Memang tidak semua sisi budaya dan seni memiliki kandungan nilai positif, tapi mempertimbangkan nilai budaya dan rasa kemanusiaan sangat diperlukan dalam kondisi masyarakat yang beragam.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."