• PDF

Rokok Untuk Sekolah

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 21 Agustus 2009 11:30
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 2670 kali

Dalam suatu perbincangan dengan salah satu orangtua anak yang mendapat dukungan dari kantor di mana saya bekerja, tercetus pengakuan ini, “Kalau untuk rokok, paling ya sekitar Rp5.000,- sehari, Mas.” Gubrak, saya terkejut tapi tetep pura-pura tenang dan melanjutkan cerita-cerita dengan dia mengenai kehidupannya sehari-hari.

Sebenarnya saya sudah sering mendengar berita atau cerita seperti ini, mungkin juga pernah menulisnya. Tapi saya tetap terkejut melihat kenyataan dia memaksa anak-anaknya memenuhi kebutuhan merokok tersebut. Terutama anak perempuannya yang bekerja jadi pembantu di Jogjakarta.

Penghasilan anak perempuannya tentu saja tidak begitu besar, tapi dia mendapat beban yang cukup berat menanggung kehidupan keluarganya di kampung. Bapaknya tanpa pikir panjang sering menelepon ke tempat anaknya bekerja hanya untuk meminta rokok. Tentu saja hal ini menular ke anak lelakinya yang saat ini drop out dan tidak mau sekolah lagi. Kerja anaknya tadi hanya bermain dan kadang-kadang kalau ada pesanan untuk menggarap sawah, anaknya itu baru bekerja. Praktis dia menganggur kalau tidak ada kerja serabutan itu. Tapi rokoknya lancar sekali dan dia tidak mau berhenti sama sekali dari kebiasaannya itu.

Kalau dipikir-pikir, repot juga hidup bapak itu, untuk rokoknya saja paling tidak dia harus mengeluarkan dana Rp150.000,- per bulan. Belum rokok anaknya. Padahal kalau itu dikonversi untuk beras, mungkin sudah cukup untuk sebulan. Atau kalau dia mau membayarkan dana itu untuk uang pendidikan anaknya yang bungsu, saya rasa sudah cukup juga. Sumbangan Pendidikan dari sekolah untuk anaknya hanya Rp18.000,- per bulan. Sisanya bisa untuk membeli buku atau keperluan yang lain. Tapi rasanya hal ini sulit sekali terwujud. Bapak tadi sudah pada suatu kesimpulan, “Kalau pagi mau kerja tidak merokok mulut terasa hambar.”

Keluarganya tentu saja tetap kekurangan. Tapi Bapak tadi jarang sekali kekurangan rokok. Nampaknya skala prioritas untuk pengeluaran dan kehidupannya tidak jelas sama sekali. Istrinya bekerja sebagai buruh juga, mereka bisa makan tiap hari tapi terus merasa kekurangan, terus juga sang bapak merokok atau ke warung kopi. Alasannya dia bisa berhutang, tapi jelas itu pengeluaran yang setiap saat bisa menohok dia.
Saya jadi bingung juga, jangan-janagn bantuan kami yang sedikit itu salah sasaran. Tapi siapa lagi yang akan membantu mereka. Seringkali mereka memang bingung sama sekali dengan akses dan kesempatan. Seringkali juga mereka dianggap malas. Yang jelas mereka bekerja keras. Mungkin kalau dana merokok dialihkan 30 persen saja untuk pendidikan maka akan ada banyak hal dalam dunia pendidikan terfasilitasi. Mungkin bisa buat beli alat peraga atau komputer.

Di Jogja anaknya bingung: ada cowok yang mendekati untuk menikah, kalau dari sisi cinta dia memilih yang miskin seperti dia. Tapi kalau bicara masa depan, sepertinya menikah dengan pemilik toko di pasar itu sangat menjanjikan. Kan cinta bisa tumbuh karena terbiasa.

Begitu tidak sih?

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tjiauw   |114.123.244.xxx |24-08-2009 19:48:54
Menurut saya,
jawabannya bisa ya, bisa tidak, tergantung!!..
Ya, jika kita
bersedia berkorban untuk mengalahkan ke-'ego-an kita & bersedia menumbuhkan rasa
cinta yang sebelumnya tidak ada..
Tidak, jika kita tidak mau berkorban,
sehingga rasa cinta tidak akan pernah tumbuh..

GOD BLESS YOU ALL..
Marsha  - Rokok Untuk Sekolah   |203.130.212.xxx |25-08-2009 18:26:18
Ini bagaimana, ya? Judul dan cerita adalah Rokok Untuk Sekolah, tapi yang
jadi pertanyaannya adalah: perlu tidaknya cinta untuk pernikahan. Agak
jauh dari nyambung.

Anyway, menurut saya dasar untuk sebuah pernikahan
bukan cinta, tapi KASIH & KOMITMEN.
Cinta bisa menghilang seiring berjalannya waktu, tapi dengan KASIH &
KOMITMEN, we can survive the journey of marriage... Dengan
catatan, kalau rasa cinta itu juga ada, it's really - really a BIG
BONUS!

God Bless You!
omega palguno  - ??   |114.58.210.xxx |26-08-2009 14:21:53
kok agak gak nyambung ya ... isi cerita awal sampai ke kesimpulannya.... aku
ngerti....
ECha   |125.163.248.xxx |04-09-2009 21:27:23
kalo paragraf yang terakhir dihilangkan, isinya masih pas ~ rokok untuk sekolah
~ dana yang untuk beli rokok bisa dialihkan untuk dana sekolah.
ayo semangat
mas Wiji! pemikiran yang bagus.
paragraf terakhir itu dijadikan tulisan baru
saja, seperti usulan2 di atas.... ^_^
eko  - rokok untuk sekolah     |64.255.180.xxx |01-10-2009 15:11:31
Isinya bgs...tp pengrtian nya cuma biasa aja.." ttp smangat bang tuk
menulis, krtikan akan membuat lebih maju,..godbless you
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."