• PDF

Pornografi Di Sekitar Kita

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 23 Juli 2010 13:39
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 3748 kali

Video porno, ada apa ya dengan barang yang satu ini? Mengapa ketika video mirip Ariel dan Luna beredar orang begitu gempar? Seolah kita adalah masyarakat yang sangat suci dan baru kali ini ada peristiwa seperti ini. Semua orang menghujat yang lain seolah paling benar sendiri. Ada yang bilang karena imbasnya sampai ke luar negeri, jadi hebohlah masyarakat kita. Tetapi bagi saya bukan soal imbas sampai ke luar negeri itu yang merisaukan.

Hal paling merisaukan saya adalah kenyataan bahwa video mirip Ariel tadi menjadi barang yang sangat biasa. Beberapa orang bahkan nonton bareng di kantor. Pertanyaan, “sudah nonton belum videonya?” menjadi hal yang sangat biasa. Artinya, orang melihat hal-hal tabu itu menjadi biasa. Alasan yang muncul adalah: sudah masuk berita kok, sudah menjadi cerita publik, jadi  tidak apa-apa kan mencari dan menontonnya. Bukankah ini berita dan pengetahuan yang harus dilihat juga?

Kontradiksi dan paradoks seperti ini amat merisaukan. Menunjukkan betapa masih minimnya pengetahuan bangsa kita. Juga amat minimnya pengalaman dan pemahaman bangsa kita berkaitan dengan media bernama surat kabar. Semua yang ada di televisi oleh sebagian orang dianggap pengetahuan dan kebenaran. Biasanya orang menganggap apa yang di televisi sebagai presentasi dari modernitas dan modernitas kadang hanya diterima secara sempit sebagai: sesuatu yang lebih benar.

Di sisi lain, kenyataan pornografi menjadi hal biasa makin menguatkan keyakinan saya bahwa bagi kita barang yang satu ini juga kurang dipahami dengan baik. Menurut saya, masalahnya ada pada arti pornografi . Apa yang dipahami masyarakat berbeda dengan pornografi yang selama ini digembar-gemborkan para ahli. Di kampung-kampung perbincangan soal seks sebenarnya amat biasa, walau ditutup-tutupi. Pemuda melakukan seks bebas juga biasa. Ketika sekelompok ibu mencuci bersama atau bapak ngopi di warung, perbincangan soal ini juga lumrah terjadi. Remaja saling menunjukkan keperkasaan soal seks juga biasa. Orang mandi di sungai ya bukan pornografi. Kencing seenaknya di negara lain katanya dihukum sebagai bagian dari pornografi. Di tempat kita, biasa itu. Gambar-gambar alat genital yang berupa corat-coret yang biasa kita lihat di tempat-tempat umum nampaknya juga menunjukkan betapa biasanya permasalahan ini.

Mungkin ada yang merasa tersinggung mendengar pernyataan saya? Inilah salah satu yang lebih merisaukan. Kemunafikan bangsa. Sekitar tiga hari yang lalu saya mendengar kisah beberapa Guru selingkuh—saya kenal mereka. Bahkan ada yang seperti hidup bersama. Mereka bebas bercanda seolah tidak ada masalah moral di sana. Mengapa begitu? Dugaan saya karena hal itu sudah biasa terjadi. Tapi kalau ada penelitian, kita cenderung menutup-nutupi. Seolah-olah suci  sekali. Gelombang tudingan dan sumpah serapah menyalahkan para artis yang katanya terlibat dalam video porno yang sedang terkenal itu saya letakkan dalam konteks ini. Dalam kerangka ini maka ketika ada anggota lembaga tinggi pemerintahan ketahuan berbuat asusila maka dia tidak diseret-seret seperti kasus video mirip artis ini. Lembaga tinggi pemerintahan adalah lambang kebaikan maka dia perlu dijaga citranya. Saya pikir pola pikir seperti  inilah yang terjadi. Kita takut jujur dan cenderung munafik. Kalau kita mau jeli, ada beberapa selebritis yang tindak-tanduk moralnya tidak jauh beda dengan kasus video mirip artis tadi, tapi mereka melenggang dengan manis tanpa tudingan apapun.

Saatnya kita memahami pornografi dengan lebih baik. Menempatkan berita dengan lebih tepat. Dan lebih jujur dengan diri sendiri. Pengenalan diri, penerimaan diri, dan kejujuran katanya adalah kunci menuju pribadi yang berkarakter, kuat, dan berguna bagi Tuhan dan sesama. Sudah saatnya pula memikirkan dengan lebih jernih kurikulum pendidikan seksualitas bagi anak-anak kita. Supaya mereka tidak meraba-raba dan menerka-nerka dan menjadi generasi yang lebih baik seperti diharapkan banyak kalangan.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Ida Gulo   |125.162.48.xxx |31-07-2010 07:20:28
Setuju pak,mank kenyataannya seperti yg bapak paparkan di atas hmm..,semoga
kdpan semuanya akan lebih baik lagi.utk orgtua/calon orgtua berikan pelajaran yg
bnar ttg sex kpd anak2 biar mreka dpt memahami dgn bnar sex itu apa+sdini
mungkin mengajari anak mengenal TUHAN saya rasa itu yg paling penting.Tuhan
Yesus memberkati.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."