• PDF

Terjajah Dalam Kemerdekaan

Penilaian Pengunjung: / 13
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 06 Agustus 2010 15:53
  • Ditulis oleh Wiji Suprayogi
  • Sudah dibaca: 4413 kali

Menyebalkan, saya merasa tidak memiliki ikatan apapun dengan kata kemerdekaan. Saya merasa hampa ketika tiba-tiba di bulan Agustus ini kata merdeka itu kembali sering diperdengarkan. Apakah saya benar-benar bisa merdeka? Itu yang tiba-tiba saya pikirkan ketika kembali mendengar kata: merdeka. Pengkotbah di Gereja meneriakkan kata merdeka berulang kali. Tapi tetap saya berpikir: kita ini terjajah, di mana pun dan kapan pun. Mungkin karena pada dasarnya kita terjajah sejak kecil.

  1. Waktu SD banyak kasus penjajahan. Guru yang galak sehingga membuat takut. Pelajaran yang begitu banyak. PR yang menumpuk. Seragam yang membelenggu. Uang sekolah yang besar. Pelajaran hanya menghafal. Sulit menemukan rasa senang di sekolah. Bermain pun dibatasi.
  2. Waktu SMP dan SMA bertambah lagi kasusnya. Uang gedung membesar lagi. Kebutuhan gaya hidup mulai muncul. Guru tetap galak. Seragam masih ada. Kakak kelas mulai malak. Kehidupan remaja mulai menekan. PR lebih banyak lagi. Masa depan terlihat suram. Sekolah kok ya nganggur. Mau kuliah tidak ada uang.
  3. Banyak yang merasa masa mahasiswa adalah masa yang memerdekakan. Tapi banyak hal terlarang dipelajari. Pengenalan kepada sistem-sistem membuka pikiran kalau kita terjajah secara ekonomi. Menentukan hidup sendiri juga kesulitan. Tuntutan hidup makin besar. Ada lagi yang terjebak narkoba dan tindakan haram lainnya. Bahkan untuk bersenang-senang kita dituntun gaya hidup yang katanya membebaskan. Dosen-dosen ternyata banyak yang membosankan. Tembok kuliah serasa membosankan. Ternyata ancaman menganggur makin nampak nyata
  4. Bekerja lebih repot lagi. Atasan menekan. Teman menekan. Kebutuhan menghimpit. Istri atau suami menjajah. Anak menuntut. Saudara-saudara menekan. Eh kita tiba-tiba mendengar apapun yang kita lakukan ditentukan oleh negara yang lebih maju.

Mungkin semua terdengar melebih-lebihkan. Tapi pada kenyataannya menggunakan sabun pun kita diatur oleh iklan. Jam berkegiatan ditentukan oleh TV dan acaranya. Begitu keluar rumah kita sudah dibombardir iklan yang sangat sugestif sehingga tanpa sadar kita mengikutinya. Begitulah dalam dunia yang semakin global. Keputusan sekecil apapun sebenarnya dituntun kekuatan amat besar yang tersembunyi dan tak terkendali dan itu bukan Tuhan. Kekuatan ekonomi, kekuatan tata sosial, dan ketakutan kehancuran bumi. Semakin kita berlomba meningkatkan kesejahteraan semakin kita perlu menjajah orang lain. Supaya kita lebih sejahtera. Mungkin memang secara alamiah kita harus saling menjajah.

Ah mungkin saya berlebihan ya... tapi sejatinya kita perlu terus berpikir untuk terbebas dari penjajahan kebodohan dan kemalasan. Mungkin sekali karena kita ini bodoh dan malas, maka dijajah pun kita tidak terasa.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
tjiauw   |203.78.118.xxx |07-08-2010 16:46:14
iya sihhh..
kita kadang malas, sehingga kita dijajah pun kita tidak
merasa..
malas untuk melakukan bagian / tugas kita..

GOD BLESS WE ALL..
yona  - cerita yg bagus   |125.162.53.xxx |07-08-2010 19:18:08
cerita nya bagus. tapi kok g ada firman Tuhan nya. g da 1 ayat pun. ok tQ GBU.
susanto  - terjajah dalam kemerdekaan     |74.232.8.xxx |11-08-2010 13:19:53

Gimana kalau judulnya dibalik
merdeka dalam keterjajahan.
Sebab merdeka
atau tidak, tidak ditentukan akan apa yang ada diluarkita, tetapi didalam hati
kita, sikap hati kita merespond dinamika hidup ini. Paulus dan Silas mengalami
kemerdekaan sekalipun dia dipenjara karena Injil.

Kak Santo
Nelly  - kenyataan hidup   |114.124.208.xxx |13-08-2010 06:22:15
Saya sangat terkejut dengan atas kesaksian anda. Memang sebagian orang memiliki
pengalaman kehidupan yang sama dengan anda. Akan tetapi, banyak yang belum
menyadari bahwa kehidupannya seperti yang anda katakan. (me also ^^)
Terima
kasih atas kesaksiannya, penting untuk menyadari bahwa kita tidak perlu terikat
dengan apa yang di dunia ini, mungkin saja masi banyak orang di luar sana yang
telah jatuh (menjadi budak) dalam kesibukan dunia tanpa disadari bahwa yang
diperbuat tidak memberikan sukacita dalam hatinya.
Sebenarnya bila setiap orang
tidak perlu memikirkan hal lain atau menjalani hidup ini dengan berserah
kepadaNya demikian pula ketentraman hidup tidak akan jauh dari dia. Seperti
hujan yang jatuh ke bumi dan mengalir ke tempat yg lebih rendah begitu pula
manusia perlu menyadari peranannya sebagai makhluk hidup di bumi menjadi
pelengkap pada tempat dimana kita dibutuhkan. Karena kita semua tinggal dalam 1
tempat yang ...
Rizon  - Merdeka!!!   |110.137.195.xxx |23-08-2010 15:04:04
pemaparan yg bagus dan pasti mengena, tetapi... adalah lebih baik untuk
mensyukuri segala yang sudah kita terima toh semua sudah berlalu...
life must go on.... teman.... be strong...
Aster Sitompul  - Merdeka karena Roh Kudus   |125.162.67.xxx |26-08-2010 15:11:05
Itulah kenyataan hidup....but kita dapat merdeka dalam hidup yang serba
menghimpit dan menekan ini dalam sukacita dan kemerdekaan dari Roh Kudus....yang
hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang tidak mau dibelenggu oleh dosa dan
pikiran-pikiran sempit tanpa pengharapan. Siaplah dimerdekakan oleh Roh
Kudus!!!!
djati  - Terjajah dalam kemerdekaan   |202.175.127.xxx |05-09-2010 20:04:50
Makasih artikelnya, yupz betul sekali kita menjadi manusia yg suka yg
"serba instan" dan hydonisme, maju terus Tuhan memberkati
ameng   |75.126.123.xxx |19-09-2010 15:10:15
aku msh terjajah oleh pekerjaan.......help
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."