• PDF

Hanya Satu Setengah Jam

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:07
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 2689 kali
Setiap kali masuk ke kelas Sekolah Mingguku, aku merasa bahwa inilah saatnya bekerja. Dan bekerja bukan dengan santai, tetapi dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh membuang waktu yang ada dengan sia-sia. Apalagi aku cuma punya waktu satu setengah jam untuk melayani anak-anak ini.

Demikianlah, begitu aku datang, meletakkan semua bawaan, dan berdoa memohon pertolongan Tuhan untuk pelayanan hari itu, aku segera bangkit dan menyalami anak-anak yang sudah datang. Kutanyai mereka satu per satu. Termasuk orangtua atau pengantarnya. Kutanya tentang kesehatannya, kutanya tentang papa-mamanya, kutanya tentang kegiatannya sehari-hari.

Baru saat jam mulai kebaktian tiba, aku mendukung temanku yang memimpin pujian dengan ikut bernyanyi serta menari penuh semangat. Memberi contoh dan mengajak anak-anak berdoa serta memberi persembahan. Sesudahnya, aku sendiri membawakan cerita firman Tuhan, dengan beberapa peraga dan yang lebih utama, seluruh diriku. Kuucapkan dengan tegas namun hati-hati setiap kalimat yang kusampaikan sebagai pesan Tuhan. Kutatap mata anak-anak itu dengan penuh kasih. Kubawakan sesederhana mungkin agar mereka mengerti dan menaruhnya di dalam hati.

Sesudah itu aku dan teman-teman segera menyambung acara dengan kegiatan. Selesai membagikan lembar untuk mewarna dan krayon, kami pun duduk di salah satu sudut kelas untuk menata alat dan menyiapkan kupon serta ayat mas yang hendak dibagikan.

Setelah semua selesai, anak-anak masih belum selesai dengan tugasnya. Namun, begitulah. Rasanya tidak nyaman bila aku hanya menunggu anak-anak dengan duduk manis di sudut ruangan. Maka aku segera bangkit dan berjalan mendekati anak-anak.

Aku mendekati Davin, anak laki-laki yang selalu membesarkan suaranya bila sedang menyanyikan "Kingkong Badannya Besar". Waktu melihatku mendekat, ia segera mengangkat gambar yang telah selesai ia warnai. Dengan senyum lebar ia berkata, "Tante, punya Davin bagus kan?" Aku pun mengangguk dan menanyakan padanya tentang coretan hitam yang ia goreskan di kertasnya. Meski jawabnya "ngawur", ia sungguh tampak senang saat aku mengajaknya berbicara. Lalu aku beranjak ke Amara, Yovita, Gaiska, Vicko, dan yang lainnya. Kusapa dan kusentuh mereka, lalu dengan hati melambung bahagia kuterima senyum dan gelayut manja mereka di tubuhku.

Kala seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa dan anak-anak beranjak pulang, aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan terakhir bertemu mereka minggu itu. Kutawarkan telapak tanganku untuk "tos" dengan masing-masing anak. Kutemani mereka mencari dan mengenakan sepatu serta kaus kaki. Lalu kuantar mereka berjalan keluar dengan lambaian tangan dan salam penuh harapan "sampai jumpa lagi minggu depan, ya!"

Yah, waktu satu setengah jam begitu cepat berlalu. Saat ibadah bersama anak-anak yang kunanti-nanti dan kupersiapkan sepanjang minggu, hanya akan berlangsung secepat itu. Padahal, itulah satu-satunya kesempatan bagiku untuk menggemburkan tanah hati, menaburkan benih firman, memupuknya dengan doa sepenuh hati, dan menyiraminya dengan sukacita pujian yang merasuk sampai ke hati dan hidup jiwa-jiwa kecil itu. Bagaimana mungkin aku akan bersantai di waktu sebeharga namun sesempit itu?

Jogja, 12 Januari 2004

Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Baril  - hi   |61.8.75.xxx |19-01-2010 22:30:28
hi.....

Saya baru membaca setelah 6 thn catatan ini di tulis....
sangat
memberikan inspirasi untuk saya
Trimakasi
Semangat terus dalam melayani
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."