Neraca Laba Rugi

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
Salah satu kegiatan besar yang dilakukan Komisi Anak menjelang Natal adalah mempersiapkan kado untuk setiap anak Sekolah Minggu. Absensi mulai direkap, dan dibuatlah kategori kesetiaan. Yah, kesetiaan dalam tanda kutip, sih, karena indikatornya hanyalah kehadiran di kelas Sekolah Minggu. Siapa yang berada pada kategori "paling setia", merekalah yang mendapat kado paling istimewa.

Lalu setelah masing-masing guru mendapat dana sesuai plafon yang telah ditentukan, barulah mereka berburu mencari kado yang paling tepat dengan kebutuhan, usia, dan karakter tiap-tiap anak. Dengan harapan, setiap anak akan puas dengan hadiah yang diperoleh, dan itu menambah semangatnya untuk rajin ke Sekolah Minggu. Namun seperti apa kado yang dipilih, terpulang pada kreativitas dan seberapa besar usaha yang dilakukan setiap guru.

Dulu, saat aku masih seorang anak Sekolah Minggu, aku pernah mendapat hadiah Natal yang bagiku terasa istimewa. Satu set peralatan sekolah yang desainnya begitu baru, bagus, dan unik. Aku belum pernah melihatnya di toko-toko, di kotaku yang kecil. Tak ada satu pun teman sekolahku memiliki barang seperti itu. Begitu senangnya aku menerima kado itu, sehingga aku menyimpannya dengan rapi dan memakainya dengan begitu hati-hati. Mungkin, itulah barang berhargaku saat itu! Begitu pula dengan teman-teman sekelasku waktu itu. Semua menceritakan betapa senangnya mereka mendapat kado yang sungguh mereka sukai.

Bertahun-tahun sesudahnya, setelah aku sendiri menjadi guru Sekolah Minggu, aku baru tahu dari mana guru kelasku membelikan barang-barang bagus itu. Ternyata mereka menyempatkan diri pergi ke Jakarta khusus untuk membeli kado Natal! Wah, aku cukup terkejut mendengarnya. Pasalnya, guru-guru kelasku itu bukan orang-orang yang mudah dan kerap bepergian. Mereka adalah para ibu rumah tangga. Yang seorang membuka usaha rumah makan yang tak terlalu besar, yang seorang lagi berjualan makanan kecil di rukonya. Apalagi mereka juga ibu yang mesti pula bertanggung jawab mengurus suami dan anak-anak.

Untuk pergi ke Jakarta yang berjarak dua belas jam perjalanan dengan mobil dari kota tinggalku, berarti mereka harus benar-benar menyempatkan diri. Tentu mereka mesti menyiapkan keluarga dari jauh-jauh hari. Tentu mereka harus membiayai sendiri perjalanan pulang-pergi ke Jakarta dan semua pengeluaran selama di sana. Tentu mereka harus mengorbankan penghasilan beberapa hari dengan menutup rumah makan atau toko selama mereka pergi. Bukan itu saja! Ternyata mereka masih harus "nombok" lagi dari kocek pribadi, karena hadiah yang mereka pilih lebih mahal dari plafon yang telah ditentukan gereja!

Bercermin pada apa yang telah mereka lakukan bagi pelayanan, aku belajar memahami apa artinya memberi yang terbaik. Sebenarnya, siapa sih yang menyuruh mereka tutup toko dan kehilangan laba yang mestinya mereka peroleh? Siapa sih yang menuntut mereka pergi ke kota yang jauh dan menghabiskan banyak tenaga dan dana? Siapa sih yang meminta mereka berpikir keras mencari kado paling tepat sehingga setiap anak merasa puas? Siapa sih yang menyuruh mereka "nombok"?

Tuhan, ampuni aku bila terkadang aku masih menghitung "neraca laba-rugi" saat mesti berkorban bagi pelayanan. Aku tahu tak layak aku melakukannya karena Engkau telah memberiku terlalu banyak. Berilah aku hati seperti guru-guruku tercinta, sehingga aku takkan ragu atau takut untuk berkorban dan memberi diri bagi pelayanan.

Jogja, 24 November 2003
Tina
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous   |114.141.52.xxx |11-04-2011 19:38:43
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."