• PDF

Paket Berisi Tragedi Lion Air

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:35
  • Ditulis oleh Agustina Wijayani
  • Sudah dibaca: 8665 kali
Pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Adi Sumarmo, Solo, 30 November petang. Seluruh stasiun TV bergegas mengirim utusan untuk meliput, menyapu seluruh gambar dan rekaman suara dari setiap situasi yang muncul di sekitar TKP dan area evakuasi. Mencoba mencari program-progam lain, nyatanya tayangan ngeri dari setiap korban yang dievakuasi dalam berbagai kondisi menyedihkan, tiba-tiba menjadi liputan berita live terhangat yang menyedot pemirsa. 

Aku bergeming melihat lalu lalang manusia dengan berbagai ekspresi kegalauan. Sedih, takut, bingung, kacau, hampa. Setiap mimik dan kata menyuarakan kekacauan yang masih sangat terasa mengejutkan dan menyesakkan. Setiap kali truk datang, korban yang sudah tak bernyawa, masih sekarat, atau masih sadar meski dalam kondisi syok berat, diusung keluar dan ditaruh berjajar di lembaran terpal tipis yang sudah kaku kemerah-merahan karena darah. Beruntung mereka yang sempat mendapat brankar dan langsung mendapat tindakan. 

Belum lagi para anggota keluarga korban, yang dalam cekaman gelisah dan cemas mencari-cari orang terkasih mereka yang belum ketahuan nasibnya. Sebagian yang sudah tahu ada yang mulai meraung-raung karena yang dicari sudah tak mungkin bangun lagi. Membuat suasana kian rancu dalam tragedi. Sebagian lagi masih terus mencari dengan secuil harapan yang semoga masih mau digenggam. 

Aku cukup tegang kala nama-nama korban mulai ditayangkan. Apalagi jumlahnya masih berjalan progresif. Bertambah banyak dari jam ke jam. Aku menyapu cepat setiap nama di layar. "Semoga tak ada nama yang kukenal...," spontan ketakutan menjadikanku egois. Sampai larut aku masih terus mengikuti perkembangan korban yang mulai teridentifikasi. Dan diam-diam merasa lega kala tak satu pun nama familier bagiku.

Pagi-pagi, keingintahuan membawaku untuk segera mencari remote control dan menekan kenop POWER. Benar saja dugaanku, hampir semua stasiun TV masih melanjutkan liputan live maupun rekaman yang mengabarkan perkembangan tindakan dari kecelakaan naas dari pesawat yang sudah berusia dua puluhan itu. Kini bangkai pesawat tampak lebih jelas dari semalam, maksudku, kehancurannya tampak lebih nyata. 

Aku yang mulai tenang karena kecelakaan itu tak mencelakai orang-orang yang ada dalam lingkup pergaulanku (duh, aku harus benar-benar belajar empati rupanya...), aku meng-sms seorang teman yang berulangtahun hari itu. Kurangkaikan untuknya kata-kata manis, masih sembari menonton tayangan yang rasanya belum banyak berubah sejak semalam. Setelah sekian menit pesanku terkirim, dia membalas sms-ku dengan pesan mengejutkan: Sepertinya Frans, teman kita, ikut menjadi korban pesawat Lion. Deg. Spontan aku membalas sms-nya dengan sangkalan keras: Aku tidak membaca ada namanya sebagai korban. Semoga bukan dia. Kalaupun dia, semoga dia tidak apa-apa. Titik. Temanku tak membalas lagi, dan aku pun bergegas mandi.

Sesampai di kantor, nyatanya harapanku tak bersambut dengan kelegaan. Memang tanya-tanyaku terjawab. Tapi dengan jawaban negatif: Ya, Frans memang menjadi korban. Dia meninggal. Nama lengkapnya terpampang di layar saat kubuka website yang memuat update terbaru. Beberapa teman pun menelepon dan meyakinkan keabsahan berita itu. Yah, tak ada yang bisa disangkal lagi, tak ada yang dapat diubah lagi. Dan tak perlu bertanya-tanya lagi, terimalah saja bahwa berita itu benar, begitu hatiku menegaskan.

Aku memang tak begitu akrab dengan Frans. Tetapi aku pernah mengenalnya. Dia orang yang supel. Hampir setiap saat, ada senyum di wajahnya, membuat orang yang bertemu dengannya merasa lega dan diterima. Ia sangat baik membina perkawanan, hingga tak heran ia selalu dikelilingi teman dan sahabat. Ia ringan tangan dan rendah hati. Aku nggak ngegombal, tapi mungkin justru karena aku tak mengenalnya dekat, maka aku tak begitu melihat kekurangannya. 

Namun tetap terasa ada kesedihan menyusup di hati, kala aku "kehilangan seorang teman". Rupanya beginilah hidup harus dihadapi. Setiap hari, ada paket yang mesti kita terima dan kita buka. Isinya bisa bervariasi. Kadang menyenangkan dan membuat kita tertawa atau minimal tersenyum. Namun, agar tak monoton dan membosankan kadang ada paket istimewa yang lain dari biasa. Di dalamnya bisa berisi maki-maki orang dan celaan, maupun dukacita yang membuat kita menangis dan meratap. Dan kita tak mungkin menolaknya. Paket itu untuk kita. Bukan untuk orang lain. Orang lain sudah menerima bagiannya sendiri. 

Tuhan, ajariku bagaimana caranya untuk selalu siap. Ajariku semakin dekat pada-Mu agar apa pun terjadi padaku, aku punya pegangan yang kuat di dalam Engkau. Ajariku untuk tetap memandang ke atas dan meraih kekuatan dari-Mu, manakala aku harus menangis dan menunduk karena dukacita. Selamat jalan, Frans... Bapa menantimu.

Jogja, 1 Desember 2004
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."